MinorityIdeas

Share the Ideas Within the Codes of Peace

Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us
Senin, 16 Maret 2009

Waktu dan Masa Muda

created by MinorityIdeas


Judul: Ya Allah…Tahu-Tahu Kini Saya Telah Tua!
Penulis: Jamal Ma’mur Asmani
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 228 halaman

Hasan Al-Bana pernah mengatakan bahwa waktu adalah kehidupan. Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan. Begitu pentingnya waktu, sampai Allah bersumpah dengan waktu. Wal `ashr, demi masa, kata Allah dalam surat al-Ashr. Betapa Allah juga mementingkan waktu melalui sumpahnya yang lain dengan menggunakan satuan waktu yang lebih beragam. Misalnya, walfajri, demi waktu fajar (al-Fajr:1), wadhdhuha, demi waktu dhuha (Adh-Dhuha:1), wallaili, demi waktu malam (asy-Syams:3), wannahari, demi waktu siang (asy-Syams: 4). Sesungguhnya di balik perhatian Allah terhadap waktu terdapat pesan penting buat manusia, yaitu agar mereka juga memperhatikan dan mempergunakan waktu sebagaimana mestinya yakni dengan beribadah secara total dan benar.

Kita juga tahu bahwa satu-satunya hal yang tidak bisa di rem adalah waktu. Saat kita telah melakukan kesalahan beberapa detik yang lalu, kita tidak pernah bisa menghentikan waktu untuk mengembalikan kesedia kala agar tidak terjadi kesalahan. Tidak menutup kemungkinan bahwa kesalahan yang telah terjadi itu dapat merugikan diri kita sendiri atau bahkan orang-orang di sekeliling kita. Untuk orang-orang yang mau berpikir, disinilah mereka melihat bahwa waktu sangatlah berharga, tetapi bagi orang-orang yang tidak mau berpikir dan tidak bisa mengambil hikmah akan setiap kejadian, maka setiap kesalahan akan dianggap angin lalu dan bahkan waktu menjadi obyek cercahan atas kesialan yang menimpanya. Orang-orang dengan tipe pertama akan selalu berusaha untuk tidak mengulangi kesalahannya dan sebanyak mungkin melakukan amalan, karena waktu bagi mereka begitu berharga dan tidak dapat diputar kembali, sedangkan orang-orang dengan tipe kedua memiliki banyak peluang untuk mengulangi kesalahan yang sama dan terlena oleh waktu yang terus berlalu tanpa banyak berbuat amal.

Ustadz Yusuf Mansur menjelaskan dalam bukunya yang berjudul,”Buat Apa Susah? Segarkan Hidupmu dengan Percaya”, bahwa kita bisa menganalogikan waktu hidup sebagai sapu lidi yang kokoh. Setiap hari satu batang lidi gugur, sampai pada satu saat tidak ada lagi lidi yang tersisa. Kalau kita memboroskannya, berarti lidi itu hilang tanpa kita sempat menyapu. Maka, menyapulah sebanyak dan sesering mungkin sebelum lidi-lidi itu berguguran. Gunakanlah waktu muda untuk berkarya besar, sebelum datangnya waktu tua ketika tidak mampu lagi berbuat apa-apa.” Lalu apakah kita akan melewatkan waktu muda dengan hal-hal yang tidak bermanfaat hingga tak terasa masa tua telah datang? Mengapa waktu muda kita begitu berharga? Bagaimanakah cara memperlakukan waktu muda kita sebagaimana mestinya? Karena tentu saja untuk bisa memperlakukan waktu dengan semestinya itu harus ada pemahaman yang benar tentang hakikat waktu dan keberadaan eksistensi pemuda.

Buku karya Jamal Ma’mur Asmani ini, mungkin dapat membantu kita untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas. Buku ini memberikan penjelasan yang menarik tentang pentingnya sosok pemuda dalam kaitan manajemen waktu mudanya. Dengan gaya bahasa yang jelas dan mudah dicerna, pesan-pesan yang disampaikan penulis sangat mengena dan relevan dengan realita yang ada dalam kehidupan remaja muda saat ini. Dimulai dengan penjelasan akan pentingnya sosok pemuda di dunia ini, persoalan-persoalan yang dihadapi pemuda, dan langkah-langkah apa yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan waktu muda semestinya, hingga persiapan menjelang datangnya kematian menjadi ending dari buku ini.

Secara tegas dan kritis, penulis memulai tulisannya dengan menjelaskan akan fungsi dan peran eksistensi pemuda bagi bangsa ini sebagai agent of social change (agen perubahan sosial), agent of transformation (agen perubahan), dan agent of the future (agen masa depan). Sehingga secara tidak langsung tanggung jawab moral yang mesti dipikul pemuda dalam masa mudanya dapat dikatakan sangat berat, tetapi mulia dan bernilai luhur. Penulis dalam buku ini seolah-olah menyadarkan kita (baca:pemuda) dari sebuah amnesia yang disebabkan oleh besarnya pengaruh negatif lingkungan saat ini. Penulis memperlihatkan kepada sebuah realita yang sehari-hari sangat dekat dengan kita, yang mana tanpa terasa telah membuat kita terlena untuk menyia-nyiakan waktu ke arah negatif-destruktif. Secara langsung maupun tidak langsung generasi muda Indonesia telah dipengaruhi globalisasi budaya yang menciptakan budaya hedonis, konsumtif, konsumeris, dan sekularis. Budaya-budaya ini pada akhirnya akan menciptakan sebuah perilaku pemuda yang negatif-destruktif, seperti pergaulan bebas, larut dalam geng hitam, berzina, ke diskotek, memakai narkoba dan minum minuman keras, pembunuhan, perkelahian, dan sebagainya. Jika sebagian besar perilaku pemuda Indonesia seperti itu, maka akan menjadi apa bangsa ini nantinya? Sebuah bangsa yang sedang menuju kejurang kehancurannya.

Oleh sebab itu, fungsi dan peran pemuda yang sesungguhnyalah yang coba menjadi tema besar penulis dalam buku ini. Pemuda yang sesungguhnya adalah pemuda yang memiliki perilaku positif-progressif. Dimana melakukan sesuatu hal yang bermanfaat dalam dimensi jangka pendek dan jangka panjang. Sehingga terwujudlah sosok pemuda pemimpin harapan bangsa. Bagaimanakah sosok pemuda pemimpin harapan bangsa yang mampu memanfaatkan waktunya secara positif progresif?

Tentu saja pertama mesti dilandasi sikap tanggung jawab. Tanggung jawab dalam artian suatu sikap mental untuk menyelesaikan setiap pekerjaan secara baik dan berkualitas. Setelah itu, kita mesti belajar bagaimana cara menjadi pemuda yang benar dan pintar. Benar dan pintar adalah dua syarat yang harus ada dalam satu jiwa, satu langkah, satu komitmen, satu warna, dan satu kesatuan yang saling menyempurnakan.

Dalam bab-bab selanjutnya, penulis memberikan banyak pesan-pesan yang sangat bermanfaat bagi pemuda. Terutama bagaimana menjadi pemuda yang handal dan mampu menghargai waktu. Contohnya dalam Bab 3, penulis membahas tentang bagaimana memahami waktu dan memanfaatkan waktu. Kebanyakan pemuda sering menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Padahal waktu itu adalah modal yang sangat besar dan mahal dari Allah SWT yang diberikan kepada manusia. Barangsiapa yang mampu memanfaatkan waktu dengan baik, maka ia akan meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Namun, barangsiapa yang menyia-nyiakan waktu, niscaya ia akan sengsara.

Penulis juga menjelaskan bahwa pemuda haruslah memiliki cita-cita yang besar dan diwujudkan dengan sebuah prestasi. Karena prestasi merupakan peniggalan yang tiada akhir dan mampu memberi manfaat kepada orang lain. Jika prestasi dan karya telah mampu diciptakan, maka kebesaran Allah SWT akan diperlihatkan sebagai sebuah kebahagiaan yang hakiki. Waktu yang tidak terbuang sia-sia di masa muda dengan melakukan hal-hal bermanfaat dan amal shalih, maka di masa tua kelak akan dinikmati dan menjelang kematian tiadalah yang mesti diberatkan, karena berjuta-juta pesona telah kita torehkan dimasa muda bagi manfaat orang banyak dan diri sendiri. Jangan sampai kita menyesal pada akhir hayat kita, karena penyesalan akhir tiada guna. Lalu, apakah kita sebagai pemuda akan terus menyia-nyiakan waktu hingga maut menjemput?

Pada dasarnya, buku ini sama seperti buku-buku lainnya yang berisi tentang motivasi hidup atau muhasabah diri. Namun, perbedaan yang coba disajikan dalam buku ini adalah bahasa yang digunakan oleh penulis mudah dimengerti dan pesan-pesan yang disampaikan sangat aplikatif. Membaca buku ini ibarat kita diajak berkaca dan berintrospeksi diri akan apa yang sudah kita lakukan selama ini dalam memanfaatkan waktu. Pesan-pesan yang disampaikan penulis yang aplikatif meningkatkan semangat untuk segera berbenah diri agar hari ini jauh lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik lagi dari hari ini.

0 komentar: