
Dalam bukunya yang berjudul Nicomachean Ethics, Aristoteles berpendapat bahwa sahabat dapat dipandang sebagai diri pribadi kedua. seperti halnya perilaku yang bajik memperbaiki diri sendiri, sahabat pun dapat saling meningkatkan – inilah pentingnya persahabatan, dan alasan ini dapat dianggap sebagai sejenis kebajikan. Keberhasilan atau kegagalan seorang sahabat dapat disamakan dengan keberhasilan atau kegagalan seseorang. Aristoteles membagi persahabatan ke dalam tiga jenis, berdasarkan motif dalam membentuknya: persahabatan berdasarkan manfaat, persahabatan karena kesenangan dan persahabatan untuk kebaikan.
Persahabatan karena manfaat adalah hubungan-hubungan yang terbentuk tanpa kepedulian terhadap orang lain sama sekali. Bila seseorang membeli suatu barang, misalnya, mungkin ia harus bertemu dengan orang lain, tetapi biasanya hanya tercipta hubungan yang sangat dangkal antara si penjual dan pembelinya. Dalam konteks modern, orang-orang dalam hubungan seperti itu mungkin malah tidak disebut sahabat, melainkan kenalan (kalaupun misalnya mereka saling mengingat yang lainnya setelah transaksi itu). Satu-satunya alasan orang-orang ini berkomunikasi adalah untuk membeli atau menjual sesuatu, dan itu bukan hal yang jelek, tetapi segera setelah motivasi itu hilang, hilang pulalah hubungan antara kedua orang ini, kecuali muncul sebuah motivasi yang lain. Keluhan dan pertikaian biasanya hanya muncul dalam persahabatan seperti ini.
Pada tingkat yang berikutnya, persahabatan untuk kesenangan didasarkan pada kesenangan semata-mata akan kehadiran orang lain. Orang yang minum bersama-sama atau yang memiliki hobi yang sama mungkin mempunyai persahabatan seperti itu. Namun demikian, sahabat-sahabat ini juga akan berpisah – apabila mereka tidak lagi menikmati kegiatan bersama, atau tidak dapat lagi ikut serta bersama-sama di dalamnya.
Persahabatan karena kebaikan adalah persahabatan di mana anggota-anggotanya menikmati watak yang lainnya. Sejauh sahabat-sahabat ini mempertahankan watak yang sama, hubungan ini akan bertahan karena motif di baliknya adalah kepedulian terhadap sang sahabat. Ini adalah tingkat hubungan yang tertinggi, dan dalam konteks sekarang hal ini dapat disebut sebagai persahabatan sejati.
Berkaitan dengan konflik, maka persahabatan yang berdasarkan manfaat dan kesenangan lebih rentan untuk terjadinya konflik. Mengapa? Pada jenis persahabatan (atau yang lebih tepatnya kenalan) yang berdasarkan manfaat, manusia yang saling berinteraksi hanya didasarkan pada motivasi atau kepentingan tertentu, tanpa memperdulikan siapa orang yang dihadapi. Setelah motivasi terlaksana dan kepentingan terpenuhi maka selesai sudahlah hubungan interaksi itu. Dalam kondisi seperti ini, setiap orang yang berinteraksi tidak perlu mengenal lebih jauh dengan siapa ia berinteraksi, asalkan kepentingannya terpenuhi maka selesailah hubungan itu. Namun, kondisi seperti ini sangatlah rentan untuk timbulnya konflik jikalau kepentingan atau motivasi itu tidak dapat terpenuhi. Karena satu sama lain tidak saling mengenal lebih jauh, maka ego masing-masing akan muncul untuk mempertahankan dirinya sehingga konflik dan pertikaian tak dapat dielakkan.
Untuk persahabatan yang berdasarkan kesenangan memang setingkat lebih maju dari yang berdasarkan manfaat. Persahabatan berdasarkan kesenangan jauh lebih intens dalam berkomunikasi antara satu orang dengan orang lainnya dalam situasi dan kondisi yang membuat mereka merasa nyaman dan bersenang-senang. Setidaknya antara satu individu dengan individu lainnya memiliki kesamaan dalam hal-hal yang mereka senangi dan itu mereka ketahui. Sehingga terjalinlah hubungan persahabatan. Namun, hubungan persahabatan yang terbentuk hanyalah karena adanya kesamaan dalam hal yang mereka sukai atau senangi, tidak lebih dari itu. Maka, ketika ada hal yang saling mereka tidak senangi dan menghambat mereka untuk mendapati hal yang mereka senangi, hubungan persahabatan itu akan hilang.
Baik persahabatan dengan berdasarkan manfaat maupun kesenangan memiliki pola yang sama dalam memicu timbulnya suatu konflik, yaitu jika kepentingan dan kesenangan yang diinginkan tidak terpenuhi, maka hubungan yang terjalin akan terputus dan mudah untuk saling bergesekan sehingga konflik dengan mudah terjadi jika ego masing-masing individu sudah terlibat. Ego merupakan suatu hal yang alamiah dalam diri manusia. Ego akan muncul jikalau frustasi sudah melanda manusia dan ini dapat menyebabkan konflik. Dalam teori konflik dijelaskan bahwa sikap frustasi akan muncul ketika orang gagal mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Dalam kondisi seperti ini, jika setiap orang sudah frustasi dan ego masing-masing lebih diutamakan maka tidak ada yang saling mengingatkan untuk menurunkan emosi dan tenang, sehingga konflik memiliki potensi besar untuk terjadi.
Berbeda halnya dengan persahabatan yang didasari dengan kebaikan, hubungan ini terjalin dan terbentuk karena adanya kepedulian satu sama lain dan berusaha mengetahui lebih dalam serta menerima apa adanya sifat dan watak sahabatnya. Dalam hubungan persahabatan ini, satu sama lain akan berusaha untuk saling mengingatkan jikalau salah seorang sahabat lengah atau khilaf dalam bertindak dan bersikap. Sehingga satu sama lain bisa saling mengontrol emosi dan menjauhkan dirinya dari kondisi yang dapat memicu konflik. Dalam hubungan ini, kepentingan atau kesenangan yang mereka dapati bukanlah menjadi sebuah tujuan utama, tetapi kepedulian dan kebaikan menjadi dasarnya. Manusia sebagai mahluk sosial sebenarnya sangat saling membutuhkan satu sama lain. Sehingga hubungan persahabatan merupakan suatu hal yang niscaya. Namun bagaimana agar hubungan yang ada tidak bersifat destruktif dikarenakan sifat alamiah manusia yang memiliki emosi, agresifitas, egoisme, dan sebagainya, maka diperlukan suatu ajaran dan tata nilai yang dapat mengontrol sifat-sifat itu semua. Mungkin itulah sebabnya agama turun di bumi ini, dengan tata nilai dan ajaran yang kesemuanya untuk kemaslahatan manusia. Agama mengajarkan bahwa persahabatan yang terjalin haruslah berdasarkan hanya karena kepatuhan dan kepatuhan serta mengharap ridhoNya. Dan balasan dari itu semua akan didapat dihari akhir kelak, jika manusia yang beragama itu mengimaninya. Namun, sesungguhnya manfaat dari persahabatan karena kebaikan ini juga akan dirasakan di dunia juga, karena sudah menjadi hukum alam bahwa jika menanam benih kebaikan maka kebaikan pula yang akan kita dapatkan, dan mengenai kapan waktunya kita mendapat balasan kebaikan itu, hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Welcome
This blog entirely expresses my ideas about what i've seen, i've heard, and i've felt, around this country and international world.
Thanks!
-Anam-
Minority'sFriends
-
5 tahun yang lalu
-
10 tahun yang lalu
-
11 tahun yang lalu
-
11 tahun yang lalu
-
12 tahun yang lalu
-
12 tahun yang lalu
-
13 tahun yang lalu
-
16 tahun yang lalu
-
Minority'sTalk
Jogja's Clock
Minority'sTraffic
Minority'sVisitor
Manusia Sebagai Sumber Kekerasan & Konflik (1): Identitas Diri
created by MinorityIdeas
Proses pembentukan identitas menurut Paul Ricoeur, tidak lepas dari penilaian seseorang/orang lain yang menilai atau memberikan persepsi pada diri kita. Sehingga bisa dikatakan bahwa identitas yang ada pada diri kita ini merupakan bentukan dari orang lain.
Bagaimanapun identitas merupakan suatu hal yang dibutuhkan oleh manusia. Baik langsung maupun tidak langsung, identitas akan melekat didalam tubuh manusia dan identitas itu dibutuhkan untuk mendukung eksistensi manusia. Mengapa begitu? Dalam proses perjalanan hidup manusia, manusia memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap segala sesuatu, termasuk terhadap dirinya sendiri. Manusia akan selalu bertanya, siapakah aku ini? Untuk apa aku di dunia ini? Bagaimana aku hidup didunia ini? Mengapa aku ada didunia ini? Dan sebagainya. Sehingga dari pertanyaan dan kegalauannya itu akan tumbuh suatu proses untuk mengenali dirinya sendiri dengan melakukan observasi melihat lingkungan sekitar, melihat orang-orang terdekat, dan manusia akan tahu setidaknya saat itu akan tahu siapa dia, untuk apa dia di dunia dan sebagainya. Proses ini akan terus berlanjut sepanjang hidup manusia. Maka, proses pembentukan identitas ini akan dimulai sedikit demi sedikit dari dalam diri manusia itu sendiri agar mereka tahu apa dan siapa diri mereka ini. Oleh karena itu, konsep identitas ini akan terbentuk dari apa yang disebut konsep diri.
Konsep diri, oleh Stuart (terjemahan Egi, Ramona, 2002 : 186), didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan, dan kepercayaan yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan memengaruhi hubungannya dengan orang lain. Konsep diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat dan dengan realitas dunia.
Dalam perjalanannya, konsep diri akan terus berkembang dan membentuk identitas kita sebagai manusia. Jadi, identitas akan terus berkembang seiring dengan berkembangnya konsep diri, dan akan mengalami penambahan maupun pengurangan tergantung manusia itu sendiri yang mau menerima atau tidak menerima. Manusia juga tidak bisa menolak bahwa pembentukan identitas pada dirinya tidak hanya bisa dilakukan oleh dirinya sendiri, tetapi ada peran lingkungan dan orang lain. Orang lain atau lingkungan sekitar terkadang akan memberikan nilai-nilai ataupun label pada diri kita sebagai manusia, dan kita bisa menerimanya ataupun tidak menerimanya. Namun, terkadang ada juga yang kita tidak mampu untuk menolaknya meskipun penilaian atau pelabelan itu buruk untuk diri kita sendiri, sehingga terbentuklah suatu identitas yang buruk dalam diri kita ataupun meluas menjadi sebuah identitas buruk bagi orang-orang yang memiliki identitas yang sama dengan kita, atau adanya generalisasi identitas karena satu dengan yang lainnya memiliki ciri identitas fisik atau ciri lainnya yang sama. Sebagai contoh, wanita diberikan identitas yang diskriminatif oleh laki-laki sebagai mahluk yang lemah, yang mana hanya mampu bekerja dirumah dan mengurus anak. Implikasi dari pelabelan/labelling dan penilaian ini memberikan dampak yang buruk pada identitas wanita selama beratus tahun lamanya bahkan hingga kini. Zaman dahulu, bayi wanita terkadang dibunuh ketika lahir, dan sebaliknya jika yang lahir bayi laki-laki maka akan diagung-agungkan. Dalam sebagian besar etnis dan suku yang ada didunia ini, mereka percaya bahwa jika ada yang mesti dijadikan tumbal untuk upacara adat, maka wanita lebih pantas untuk itu. Dalam konsep warisan, wanita juga terkadang hanya sedikit mendapat jatah warisan dibanding laki-laki. Dalam kehidupan modern saat ini, wanita masih diperlakukan diskriminatif disegala lini dan sektor baik ekonomi, politik, sosial dan budaya. Padahal baik wanita maupun laki-laki memiliki potensi yang sama dalam dirinya, tetapi karena “identitas”, wanita diperlakukan tidak adil.
Dari penjelasan diatas, maka Identitas tak jarang menjadi sumber terjadinya konflik kekerasan, yaitu karena adanya perbedaan identitas antara kita dengan yang lain, sehingga menimbulkan apa yang disebut sikap diskriminatif atau prasangka negatif dan pada akhirnya sikap-sikap itu mampu menggiring pada kekerasan baik fisik maupun non fisik. Untuk kasus perlakuan terhadap wanita, tak jarang laki-laki memperlakukan mereka dengan sikap kasar dan mengarah pada kekerasan, baik fisik, non fisik, maupun struktural. Sehingga inilah yang menggiring pada adanya konflik.
Untuk kasus lainnya lagi, identitas terkadang menjadi sebuah kebanggaan bagi setiap individu manusia. Identitas yang menjadi kebanggan ini tentunya merupakan sebuah identias yang terbentuk dengan suatu pelabelan dan pemberian konsep diri yang baik pula sehingga diterima dengan baik oleh manusia dan menjadi sebuah kebanggan serta selalu dicintai. Sehingga identitas tak lepas dari apa yang disebut sebagai konsep cinta.
Menurut Ibn Khaldun, manusia secara fitrah telah dianugerahi rasa cinta terhadap garis keturunan, golongan dan kelompoknya, yang artinya cinta terhadap identitas yang terbentuk dalam golongan atau keturunan tersebut. Rasa cinta ini menimbulkan perasaan senasib dan sepenanggungan serta harga diri dan kebanggaan kelompok, kesetiaan, kerjasama, dan saling membantu dalam menghadapi musibah atau ancaman yang pada akhirnya akan membentuk kesatuan dan persatuan kelompok.
Cinta sebagai sebuah konsep masuk dalam perbincangan filsafat melalui agama, khususnya ketika asal mula dunia dilukiskan sebagai suatu tindakan penciptaan dan pencipta yang diakui sebagai yang memcintai ciptaanNya, baik secara keseluruhan atau sebagian. Cinta sebagai salah satu dorongan manusia yang paling kuat, awalnya lebih dilihat sebagai kebutuhan akan kontrol, teristimewa ketika manusia sebagai rasional animale mampu menggunakan kemampuan rasionalnya. Cinta juga dipercaya mempunyai kekuatan untuk menyatukan manusia dalam suatu ikatan yang umum.
Ketika manusia hidup bersama-sama dalam suatu kelompok yang memiliki ikatan yang kuat yang didasari cinta terhadap (identitas) kelompok tersebut, maka manusia tersebut tidak akan rela jika salah satu anggota atau sebagian besar anggota kelompoknya terhina oleh kelompok lain yang berbeda identitas dengan mereka. Sehingga dengan segala daya dan upaya mereka akan membelanya dan mengembalikan kehormatan mereka.
Sebagai sebuah fitrah, maka rasa cinta terhadap (identitas) kelompok ini terdapat pula pada semua bentuk masyarakat, baik dalam bentuknya yang primitif maupun dalam perkembangannya yang modern. Perbedaannya hanya pada faktor pengikatnya. Dalam masyarakat primitif, faktor pengikatnya adalah ikatan darah atau garis keturunan. Sedangkan dalam masyarakat modern yang ikatan darahnya sudah tidak murni lagi satu suku, maka ikatannya didasarkan atas kepentingan-kepentingan anggota kelompok maupun yang secara imaginer menjadi kepentingan kelompok.
Konflik antar agama yang terjadi di Ambon, Poso, dan ditempat-tempat lainnya, merupakan salah satu contoh konflik kekerasan yang bermula dari adanya rasa yang tidak menerima akan adanya penghinaan ataupun pelecehan terhadap salah satu anggota kelompoknya (dalam hal ini antara kelompok agama islam-kristen). Agama sebagai sebuah identitas yang menyatukan anggota-anggota kelompok orang-orang yang beragama islam dan kristen akhirnya tidak menerima dan terjadilah konflik kekerasan yang menelan ratusan nyawa melayang.
Maka, “identitas” yang ada didalam diri manusia dapat dikatakan sebagai sumber terjadinya konflik baik fisik maupun non fisik. Lalu apakah “identitas” ini mesti dihilangkan agar konflik dapat dimusnahkan? sementara manusia juga membutuhkan “identitas”.

Kita kembali menyaksikan konflik kekerasan yang melanda negeri ini. Tragedi Mbah Priok telah menelan korban jiwa 3 orang petugas Satpol PP, 146 orang luka-luka dan beberapa kendaraan bermotor milik disekitar daerah konflik habis dibakar warga Koja, Tanjung Priok. Meskipun tidak separah Tragedi Tanjung Priok pada tahun 1984, yang menelan korban hingga ratusan jiwa, namun tragedi Mbah Priok tetap menelan korban jiwa, sebuah roman bangsa yang tidak beradab terjadi kembali di era yang menjunjung tinggi HAM dan hukum.
Suatu konflik kerap kali dimulai dengan masalah yang kecil dan remeh. Jika melihat berita yang dilansir media elektronik pada saat proses mediasi antara pihak pemerintah DKI Jakarta dengan warga Koja serta pihak Pelindo, Wakil Gubernur DKI menjelaskan bahwa sebenarnya pemprov bukan ingin menggusur makam Mbah Priok, tetapi menata jalan disekitar makam mbah priok yang berdekatan dengan pelabuhan tanjung priok agar pelabuhan tanjung priok memenuhi standar internasional. Hal ini juga dikeluhkan pihak Pelindo sebagai pihak yang akan melakukan penataan pelabuhan, dimana kapal-kapal angkutan barang dari China dan negara-negara lain di Asia yang akan menuju ke Amerika tidak mau bersandar dipelabuhan Tanjung Priok karena tidak memenuhi standar internasional, dan ini jelas mempengaruhi kegiatan ekonomi di Indonesia, khususnya didaerah Tanjung Priok.
Selain itu, makam Mbah Priok yang dibela warga setempat menurut Wakil Gubernur DKI sebenarnya sudah dipindahkan ke Tempat Pemakaman Umum lainnya. Jadi, jasad Mbah Priok sudah tidak ada di daerah Tanjung Priok itu. Hanya saja sebagian masyarakat masih percaya bahwa jasad Mbah Priok masih ada disitu. Pemprov DKI sendiri tidak akan menggusur makam tersebut, karena makam Mbah Priok telah diakui sebagai salah satu situs cagar budaya dan sejarah Jakarta.
Sejatinya, Tragedi Mbah Priok ini tidak seharusnya terjadi jika diantara pemerintah dan pihak warga Koja melakukan komunikasi dengan baik berkaitan rencana penataan Cagar Budaya Makam Mbah Priok. Namun, nasi telah menjadi bubur. Korban telah berjatuhan. Baik dari pihak Satpol PP maupun warga setempat kedua-duanya salah. Tidak seharusnya kedua belah pihak yang bertikai melakukan tindakan kekerasan. Satpol PP sebagai aparatur pemerintah harusnya lebih melindungi masyarakat dan menegakkan peraturan daerah dengan cara yang nir-kekerasan, begitupun juga warga setempat yang mayoritas bergama islam dan sering mengadakan pengajian di Makam Mbah Priok seharusnya tidak bertindak anarkis dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur agama islam.
Namun, dibalik terjadinya tragedi Mbah Priok ini, apa sebenarnya yang menyebabkan konflik ini menjadi sebuah tragedi yang menelan korban jiwa yang cukup banyak dan amarah warga sangat memuncak? Padahal daerah Koja ini sebelumnya merupakan daerah yang harmonis dan tentram, tetapi kini menjadi daerah mencekam dan masih diliputi emosi serta perasaan tidak aman.
Mengapa konflik Mbah Priok bisa meledak?
Menurut George Simmel (1991), seorang ahli sosiologi, memandang bahwa konflik merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan di dalam suatu masyarakat. Simmel mengajukan suatu proposisi tentang intensitas konflik bahwa suatu konflik kekerasan akan muncul dan semakin membesar jika solidaritas diantara anggota kelompok yang terlibat itu kuat, dan semakin besar keharmonisan yang ada sebelumnya diantara anggota yang terlibat konflik, semakin besar pula tingkat keterlibatan emosinya. Selain itu, semakin suatu konflik dirasakan oleh para anggota yang terlibat konflik sebagai sesuatu yang memperjuangkan kepentingan mereka, semakin cenderung konflik akan semakin keras.
Jika melihat masyarakat Koja diderah sekitar Makam Mbah Priok, maka solidaritas mereka sangatlah kuat. Masyarakat ini sering melakukan pengajian dan ziarah yang diadakan di makam Mba Priok yang dikeramatkan. Ikatan solidaritas ini secara tidak langsung telah diperkuat oleh simbol makam Mbah Priok. Satu hal lagi bahwa komunitas yang muncul dari hasil pengajian di makam mbah priok ini cenderung bersifat militan. Sehingga ketika berhembus isu yang belum tentu benar adanya, mengenai penggusuran makam Mbah Priok, yang notabene merupakan yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat, maka rasa solidaritas itu muncul dan menguat untuk membela simbol yang diagungkan dan dikeramatkan itu. Ditambah juga sikap militan warga setempat.
Namun, bagaimanapun ini juga tak lepas dari persepsi warga terhadap Satpol PP. Persepsi ini juga sangat mempengaruhi sikap warga dalam proses terjadinya konflik ini. Satpol PP yang umum dipersepsikan dengan petugas yang tanpa ampun dan selalu menggunakan kekerasan dalam setiap aksinya menggusur pedagang kaki lima, rumah dan tanah sengketa, dan sebagainya, yang imej ini memberikan persepsi negatif warga dalam memandang Satpol PP. Ditambah lagi Satpol PP yang diperlengkapi dengan alat-alat dan instrumen kekerasan seperti pentungan, membuat warga melihat Satpol PP ini merupakan musuh mereka yang akan mengganggu keharmonisan daerah Koja yang sebelumnya dalam keadaan aman dan tentram.
Mungkin kita akan bertanya, mengapa para tokoh dan pemuka masyarakat dan agama saat itu tidak memberikan suatu arahan dan nasehat kepada warga setempat untuk tidak melakukan kekerasan saat itu. Bagaimanapun, arahan dan masukan itu sebenarnya akan kurang efektif karena masyarakat sudah tidak dalam kondisi emosi yang tidak normal. Keterlibatan emosional ini dipengaruhi oleh adanya tingkat solidaritas dan harmonitas yang tinggi antara para anggota kelompok masing-masing. Dengan demikian dapat diduga bahwa kebrutalan yang terjadi dalam peristiwa konflik Mbah Priok dikarenakan adanya rasa sakit hati atau kecewa karena telah ada yang mengganggu harmonitas yang sebelumnya dinikmati. Oleh karena itu, maka menjadi wajar jika kekerasan atau kebrutalan justru terjadi di dalam masyarakat yang tadinya relatif damai. Selain itu, konflik akan semakin brutal jika kekerasan tersebut dipersepsi oleh para pelaku sebagai media atau alat untuk memperjuangkan kepentingan mereka yang sangat prinsipil.
Apa yang mesti dilakukan selanjutnya?
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pemberi komando kepada Satpol PP dan juga warga Koja, tanjung Priok, kedua belah pihak ini sudah seharusnya melakukan pembenahan. Dari pihak pemerintah daerah sudah seharusnya dalam setiap praktek dilapangan yang dilakukan oleh Satpol PP menggunakan konsep nir kekerasan, yaitu lebih mengutamakan negosiasi dan diskusi yang merangkul semua elemen yang terlibat. Jika masih menggunakan kekerasan, maka pemerintah sekarang tidak ada jauh bedanya dengan pemerintah rezim orde baru dahulu yang represif. Kebiasaan-kebiasaan represif dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan sesuatu justru cenderung akan membuat sebuah kekerasan baru yang muncul.
Pemerintah harus menghapus tindakan semena-mena terhadap masyarakat yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Dalam proses mediasi antara pemerintah, warga Koja dan Pelindo, ada bukti yang diperlihat warga dalam sebuah draft mengenai ketidakadilan pemerintah daerah yang belum memberi ganti rugi atas pengambilalihan tanah warga, yang mana sudah bertahun-tahun terbengkalai.
Dari sisi masyarakat setempat, sudah seharusnya tokoh agama dan masyarakat setempat untuk memanfaatkan media pengajian di Makam Mbah Priok untuk lebih mendakwahkan dan memberi nasehat kepada warga untuk dalam setiap sikap dan tindakan agar tidak mengutamakan kekerasan, bukan malah mengutamakan militanisme. Islam merupakan agama yang rahmatan lil'alamiin, yang banyak membawa pesan perdamaian. Sehingga ummat islam di Koja seharusnya mencerminkan islam yang damai, bukan islam yang menjunjung kekerasan.