<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195</id><updated>2012-02-16T19:13:26.391-08:00</updated><category term='resensi'/><category term='essay'/><category term='nasional'/><category term='renungan'/><category term='info'/><category term='international'/><category term='puisi'/><title type='text'>MinorityIdeas</title><subtitle type='html'>Share the Ideas Within the Codes of Peace</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-5200937363813080543</id><published>2010-05-07T22:23:00.000-07:00</published><updated>2010-05-07T22:25:32.512-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='essay'/><title type='text'>(5) Konsep Toleransi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S-T1v-TGIzI/AAAAAAAAAF8/t_arFrPcQAg/s1600/toleransi4.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 318px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S-T1v-TGIzI/AAAAAAAAAF8/t_arFrPcQAg/s320/toleransi4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5468766052060373810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kata 'toleransi' mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Semenjak SD hingga kuliah, kita sudah terbiasa mendengar atau bahkan memahami apa itu Toleransi. Toleransi sebagai sebuah konsep ideal dalam berkehidupan bermasyarakat, bangsa, dan negara, sayangnya lebih terkesan sebagai sebuah konsep formalitas belaka, yang selalu dihadirkan dalam setiap kurikulum studi kewarganegaraan maupun studi Pancasila. Sehingga, kita hanya mengetahui belaka tanpa bisa memahami lebih dalam dan menginternalisasi nilai-nilai toleransi dalam kehidupan nyata. Mungkin ini terlihat pesimistis, tapi kenyataan membuktikan, sudah terlalu banyak kasus-kasus baik kekerasan fisik maupun non fisik yang terjadi karena sikap intoleransi kelompok-kelompok yang berbeda etnis, agama, ideologi dan berbagai macam perbedaan lainnya. Tak jarang pula ratusan bahkan ribuan nyawa melayang, yang sebagian besar disebabkan oleh sikap tidak tolerannya berbagai kelompok yang berbeda.&lt;br /&gt;Terminologi toleransi secara umum diartikan sebagai sebuah term atau istilah dalam konteks sosial, budaya, dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Toleransi juga biasanya diartikan sebagai sikap, perilaku, atau perbuatan yang menerima, mengakui, dan/atau mengenal segala perbedaan yang eksis dalam berbagai kelompok yang majemuk/plural.&lt;br /&gt;Dalam buku “On Toleration”, karangan Michael Walzer, dipaparkan mengenai konsep toleransi secara filosofis, bahwa Toleransi akan selalu dan penting dipergunakan ketika kita dihadapi dalam situasi atau kondisi dimana kita berhadapan dengan orang lain atau kelompok yang berbeda dari kita (Other/Stranger). Mengapa? Sudah menjadi hal yang natural bagi sebagian besar manusia bahwa setiap berhadapan atau bertemu dengan orang asing atau kelompok lain yang belum pernah dikenal sebelumnya, maka ada kecendrungan kita akan menilai mereka dengan segala pengetahuan yang sebelumnya ada di alam pikiran kita, yang didapat dari pengalaman mengenai obyek tersebut (orang asing atau kelompok lain tersebut). Pengetahuan dan informasi itu terkadang tidak selalu benar dan obyektif, sehingga kita akan selalu cenderung memberi penilaian negatif atau stereotyping kepada other/stranger tersebut. Hal inilah yang perlu dihindari, karena itu akan mempengaruhi kita dalam bersikap dan berprilaku yang bisa menggiring kearah sikap diskriminatif dan pada akhirnya bisa memicu pada aktualisasi tindak kekerasan dan munculnya konflik hingga pada skala yang besar.&lt;br /&gt;Secara implisit, Walzer menjelaskan bahwa Toleransi memiliki lima level, yaitu dari level bawah – sangat tradisional- hingga yang sangat modern. Pada tahap awal, toleransi bisa dianalogikan ibarat dua kelompok mafia yang saling bertengkar dan terus berperang. Ketika mereka kelelahan karena terus menerus dalam kondisi yang tidak aman dan damai disebabkan oleh peperangan yang mereka lakukan, maka mereka akhirnya memutuskan untuk berhenti berperang. Namun, disini tidak terjadi suatu dialog dan kesepakatan diantara dua belah pihak yang bertikai, mereka tetap eksis satu sama lain. Hal ini tetap dapat disebut sebagai suatu sikap yang Toleran, dalam bentuknya yang sangat tradisional. Mereka (atau kita) memandang Other tetap eksis, tapi mereka (kita) tidak mau perduli dan juga tidak mau mengakui (sebenarnya) dengan segala sikap dan ekspresi Others/stranger tersebut. Toleransi dalam bentuk seperti ini sebenarnya sangat lemah dan sewaktu-waktu dapat hilang sehingga memicu kembali terjadinya konflik.&lt;br /&gt;Toleransi pada level kedua, dapat dianalogikan sebagai sikap “cuek” kita terhadap orang lain (other/stranger) ketika bertemu disuatu tempat, yang mana kita mengakui adanya orang lain tersebut tapi kita tidak memiliki hasrat untuk mau mengenalnya, atau berkomunikasi (sekedar menyapa). Kita hanya bersikap “cuek” atau tak acuh, dan ini sebenarnya pula sudah termasuk dalam sikap yang toleran dalam bentuknya yang sangat tradisional pula, yang tak jauh beda dengan toleransi pada level sebelumnya.&lt;br /&gt;Pada tahap atau level yang ketiga, Toleransi berwujud dalam bentuk 'respect' kita terhadap yang lain/other. Respect disini merupakan suatu sikap atau perilaku yang mendorong kita untuk mengenal dan menghargai yang lain. Dalam hal ini, kita dituntut untuk bisa menekan rasa emosi, ketidaksenangan, atau ketidaknyamanan kita terhadap orang lain/other tersebut, yang timbul dari perbedaan antara yang lain dengan diri atau kelompok kita. Sikap respect disini bukanlah berarti kita menerima orang lain hanya karena kita “senang” dengan orang lain itu dalam bersikap dan berperilaku atau cocok seperti yang kita inginkan (atau sesuai dengan persepsi kita), tetapi respect lebih merupakan sikap penerimaan kita terhadap orang lain dengan apa adanya kekurangan dan perbedaan yang dimiliki oleh yang lain/other tersebut.&lt;br /&gt;Toleransi pada tahap berikutnya juga lebih maju, atau modern, yaitu toleransi yang altruistik. Toleransi dalam level ini merupakan suatu sikap penerimaan kita terhadap other atau stranger bukan karena perbedaan yang dimiliki oleh other atau stanger tersebut, tetapi kita lebih melihat eksistensi orang lain (other) sebagai sebuah refleksi nilai-nilai luhur dan ideal dari negara, agama, kebudayaan, dan ideologi. Sehingga dari sikap ini akan lahir sebuah bentuk sikap yang saling mendukung, kerjasama, saling menghormati, dan bertenggang rasa, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang sangat majemuk dan plural.&lt;br /&gt;Selanjutnya, toleransi pada level yang terakhir ini merupakan toleransi yang lebih bersifat “multikulturalisme”, yaitu suatu sikap toleran yang bukan hanya didasari oleh sikap pengakuan kita, sikap penghormatan, dan sikap penerimaan terhadap segala perbedaan yang ada pada 'yang lain', tetapi juga adanya suatu sikap dari kita untuk mau berbaur dan menyatu serta belajar dari segala hal-hal baru yang ada pada 'yang lain, other, stranger', sehingga dari hal itu bisa menciptakan suatu 'self development' pada diri kita/kelompok kita khususnya, dan dalam komunitas yang lebih luas pada umumnya. Dari hal itu, maka akan mampu tercipta suatu kehidupan yang harmonis, tenteram dan damai.&lt;br /&gt;Dalam suatu kehidupan masyarakat yang plural (seperti Indonesia), sikap toleransi sangat dibutuhkan. Sikap toleransi ini juga harus bisa didukung dengan suatu dialog yang membawa pada kesepakatan pada dua atau lebih kelompok/komunitas yang berbeda. Dalam suatu masyarakat yang tingkat kesepakatan (dialog/kesepakatan) tinggi maka toleransi akan semakin tinggi. Namun, jika tingkat kesepakatan rendah maka toleransi lebih rendah juga.&lt;br /&gt;Dalam suatu kehidupan yang menjunjung tinggi toleransi, suatu kebersamaan dalam kehidupan yang plural merupakan hal yang pasti. Tanpa kebersamaan maka toleransi susah untuk bisa diwujudkan dan direalisasikan. Sehingga jikalau kebersamaan bisa dibina maka kehidupan yang damai bisa direngkuh dan dijaga dengan baik pula. Hanya saja kita tidak boleh melupakan bahwa toleransi juga mensyaratkan 'reciprocity' (hubungan timbal balik). Tidak mungkin hanya satu orang atau satu pihak yang melaksanakan sikap toleran sementara 'yang lain/others' tidak melakukan dan mengaktualisasikannya terhadap kita. Selain itu, sikap yang akomodatif juga dibutuhkan dalam kehidupan yang menjunjung toleransi. Jika sikap yang akomodatif tidak ada, maka yang ada justru dominasi kelompok yang mayoritas terhadap kelompok minoritas. Kelompok mayoritas dengan segala nilai-nilai dan peraturan yang diterapkan harus bisa menjamin bahwa hal-hal tersebut tidak membuat kelompok minoritas merasa didiskriminasi atau termajinalkan. Apalagi ketika kelompok minoritas menuntut suatu keadilan dan ingin berdialog, namun kelompok mayoritas tidak mau menerima dan menganggap bahwa kebenaran yang dianut mereka sudah final sehingga nilai dan peraturan itu menjadi sebuah paksaan bagi yang minoritas, maka ini tidak bisa disebut sebagai sikap yang akomodatif dan toleransi dalam bentuk yang modern tidak bisa tercipta.&lt;br /&gt;Sikap toleransi haruslah mampu diciptakan dan diaktualisasikan dalam segala dimensi  kehidupan, yaitu dalam kehidupan berpolitik, sosial, budaya, agama, dan ekonomi. Dalam kehidupan politik sebagai contoh, setiap partai politik maupun fraksi-fraksi yang ada di parlemen, seharusnya mampu menghargai perbedaan ideologi yang dianut setiap parpol,dan setiap parpol maupun fraksi bisa bersinergi untuk bisa membangun bangsa dan negara ini, bukan saling menjatuhkan ataupun saling mencemooh. Ini justru makin memperparah kondisi negara kita dan memperlihatkan belum dewasanya para pemimpin dan elit di negara ini dalam berpolitik. Dalam kehidupan sosial budaya, kita dituntut untuk bisa menghargai, menerima, menghormati, dan bekerjasama dengan berbagai macam etnis, suku, dan kelompok yang tersebar ribuan banyaknya di indonesia ini khususnya. Konflik antar etnis seperti yang pernah terjadi antara etnis madura dan dayak,  sikap diskriminatif pemilik kos di jogja terhadap mahasiswa pendatang dari papua, dan berbagai realitas lainnya, sudah seharusnya dihilangkan dengan meningkatkan toleransi dan dialog diantara kedua belah pihak. Selain itu, isu agama mungkin merupakan yang paling krusial. Konflik agama di Poso dan Ambon, dan berbagai daerah lainnya, antara islam dan kristen, juga merupakan konflik yang terjadi karena rendahnya pemahaman toleransi dan dialog antar agama. Sehingga perseteruan yang remeh dan sepele pada mulanya, antara pemeluk kedua agama, mampu disulut dengan mudah hingga menelan ribuan nyawa melayang oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan memiliki kepentingan didalam konflik ini.&lt;br /&gt;Sebuah kata “toleransi” sangat mudah diucapkan dan dilontarkan dari bibir ini. Bahkan juga sangat mudah untuk dipaparkan dan dijelaskan hingga menjadi sebuah tulisan dan buku seperti yang dilakukan oleh saya dan juga Walzer. Namun, untuk membuat orang lain paham, mengerti, dan mengaktualisasikan sikap toleransi ini sangatlah tidak mudah. Karena itu, Toleransi ibarat sebuah konsep yang sangat ideal dan luhur, tetapi sangat susah untuk membumi atau “down to earth”. Diperlukan suatu cara dan mekanisme yang progresif untuk memahami kepada segenap warga negara mengenai Toleransi dan bagaimana cara mengaktualisasikannya dengan benar dan efektif.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-5200937363813080543?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/5200937363813080543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=5200937363813080543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/5200937363813080543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/5200937363813080543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2010/05/5-konsep-toleransi.html' title='(5) Konsep Toleransi'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S-T1v-TGIzI/AAAAAAAAAF8/t_arFrPcQAg/s72-c/toleransi4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-5486077922427061252</id><published>2010-04-29T21:02:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T21:04:54.125-07:00</updated><title type='text'>(4) Mimesis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S9pW3J_uTJI/AAAAAAAAAF0/Ajp4zSaS0Ao/s1600/mimetichands.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 272px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S9pW3J_uTJI/AAAAAAAAAF0/Ajp4zSaS0Ao/s320/mimetichands.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465776603343506578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mimesis menurut Rene Girard merupakan hasrat meniru dari dalam diri manusia. Manusia secara alamiah memiliku hasrat meniru manusia lainnya, baik dalam bersikap dan pola berpikir. Kondisi seperti ini oleh Rene girard disebut sebagai mimesis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimesis merupakan hipotesa awal dari Girard, yang menjelaskan akar dari suatu konflik. Pada fase pertama (mimesis), girard menjelaskan bahwa setiap hasrat meniru (mimesis) itu mengandung potensi konflik karena sifat dan watak mimesis itu sendiri. Sedangkan fase kedua, merupakan dampak implikasi dari adanya rivalitas mimesis dua orang yang memiliki hasrat yang sama, yang mana girard melihat mengenai implikasi dari dua orang yang berkonflik karena memiliki hasrat yang sama terhadap suatu obyek. Pada mulanya, girard meneliti mengenai dua orang yang berkonflik, tetapi selanjutnya ia memperluas penelitiannya terhadap relasi-relasi sosial dalam masyarakat. Sehingga dalam proses rivalitas mimesis ini timbul apa yang disebut sebagai mekanisme kambing hitam (scapegoating).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses mimesis (mimetic rivalry) menjadi ke sebuah scapegoating adalah karena hasrat manusia pada pokoknya tak terarahkan pada sebuah objek yang spesifik. Orang menghasratkan sesuatu, karena orang lain menghasratkan sesuatu tersebut. Ia meniru dan hasratnya diarahkan oleh orang lain yang ditirunya.  Hasrat yang lahir karena mimesis atau meniru itu mau tak mau mengakibatkan konflik. Sebab pihak-pihak yang menghasratkan mengarahkan hasratnya pada objek yang sama. Teladan yang tadi ditiru kini menjadi rival. Sementara objek yang tadinya diperselisihkan sekarang kabur menghilang. Makin hasrat meningkat, makin orang memfokuskan dirinya pada rival, yang akhirnya harus dilawannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rivalitas ini mau tak mau mengarah pada kekerasan. Kekerasan yang pecah menjadi satu-satunya hal yang dihasratkan. Hanya dengan kekerasan itu pihak-pihak yang berselisih merasa bisa memperjuangkan hasratnya. Terjun dalam kekerasan lalu menjadi tanda, bahwa mereka masih sanggup mempertahankan hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena manusia mencenderungi tindakan kekerasan, hidup damai dalam masyarakat tidak dapat diandaikan akan terjadi dengan sendirinya. Akal sehat maupun maksud baik (social contract) tak menjadi jaminan bagi kedamaian itu. Rivalitas yang terkandung dalam diri setiap orang dengan mudah membahayakan tata masyarakat, membuyarkan norma-norma dan mengaburkan pengandaian-pengandaian kultural. Peluang bagi kedamaian tetap ada, asalkan agresi yang saling menghancurkan bisa dialihkan ke dalam kekerasan yang satu dan seragam, kekerasan dari semua melawan satu. Maka semua orang lalu mengerahkan permusuhannya dan kekerasan pada kambing hitam, yang dipilih mereka secara sewenang-wenang . Sekarang kesalahan ada pada pihak kambing hitam. Bukan pada mereka. Itulah mekanisme kambing hitam. Karena mimesis, hasrat mereka berbenturan satu sama lain, menjadi rivalitas, yang menuntun ke konflik dan melahirkan kekerasan. Karena kambinghitam, rivalitas diredakan, konflik dan kekerasan dihilangkan, dan masyarakat kembali ke dalam ketenangannya. Lewat pengosongan kolektif terhadap hasrat mimetis yang saling menghancurkan itu, kambing hitam yang tadinya dianggap jahat dan penyebab kekerasan, kini disakralkan dan dianggap sebagai pembawa kedamaian. Ia sekaligus terkutuk dan pembawa keselamatan. Karena dialah lahir kekerasan sakral, yang dipraktikkan dalam ritual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam praktik korban, dialihkan kini kekerasan kolektif yang asli menjadi kekerasan pada kambing hitam. Hal itu diatur dan dikontrol dengan ketentuan dan aturan ritus yang ketat dan keras. Dengan demikian, agresi internal dikosongkan keluar, dan masyarakat dipulihkan dari kehancuran diri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-5486077922427061252?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/5486077922427061252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=5486077922427061252' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/5486077922427061252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/5486077922427061252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2010/04/4-mimesis.html' title='(4) Mimesis'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S9pW3J_uTJI/AAAAAAAAAF0/Ajp4zSaS0Ao/s72-c/mimetichands.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-6633283433267158967</id><published>2010-04-29T20:45:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T21:01:51.654-07:00</updated><title type='text'>(3) Musuh/Lawan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S9pVCoZN_oI/AAAAAAAAAFs/PlYdp71n4go/s1600/taman.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S9pVCoZN_oI/AAAAAAAAAFs/PlYdp71n4go/s320/taman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465774601458810498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Musuh atau lawan yang ada dalam sebagian besar benak kita selama ini merupakan orang yang “jahat”, “buruk”, “negatif”, “evil”, dan berbagai macam sifat buruk lainnya yang melekat padanya. Sehingga kita otomatis menganggap diri ini kebalikan dari sifat-sifat buruk tadi. Maka, dikarenakan adanya musuh terkadang hidup kita akan selalu merasa terancam, siap siaga jika sewaktu-waktu musuh menyerang, atau bahkan kita sampai berpikir untuk memusnahkan musuh kita tersebut. Sehingga kondisi seperti ini sangat rentan memicu konflik dengan kekerasan, padahal kita semua tahu bahwa sebagian besar manusia di dunia ini pasti memiliki musuh meskipun musuhnya tersebut hanya satu orang. Lalu, apa jadinya dunia ini jika dipenuhi dengan hubungan saling memusuhi? Akankah perdamaian yang diinginkan setiap manusia itu hanyalah impian belaka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep musuh atau lawan menurut Carl Schmitt, yaitu bukanlah musuh dalam artian musuh atau lawan yang harus dimusuhi hingga menjadikannya harus mati atau eksistensinya sebagai manusia menjadi hilang karena tindakan orang yang memusuhinya. Karena musuh dalam artian seperti ini justru akan menciptakan suatu antagonisme sosial, suatu kondisi yang chaos dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Selain itu, musuh dalam pengertian ini lebih kepada pengutamaan emosional dan persepsi, yang mana tingkat rasionalitas dalam mengambil keputusan sangat kurang dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Apa yang akan terjadi justru akan menciptakan suatu kondisi yang tidak stabil, penuh dengan ancaman dan kekerasan, dan pada akhirnya bisa terjadi yang disebut sebagai suatu  peperangan yang akan memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Maka, manusia tidak akan jauh berbeda dengan binatang atau mahluk yang tidak beradab. Menurut Schmitt, seorang lawan atau musuh hanya ada jika terjadi suatu konfrontasi secara kolektif. Konflik akhirnya menjadi chaos dan ini disebut sebagai masa krisis namun kemudian, oleh Schmitt, diharapkan ada “order” setelah dibuat suatu keputusan. Maka antinomi antara kawan dan lawan merupakan prinsip diferensiasi yang mengawali lahirnya sebuah sistem baru yang bersifat konstruktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh sebenarnya tidak semestinya diperlakukan layaknya binatang atau menghilangkan ekistensinya dari dunia ini. Musuh atau lawan sejatinya merupakan suatu hal yang sebenarnya dibutuhan oleh manusia untuk menciptakan suatu tatanan yang lebih bagus lagi.&lt;br /&gt;Menurut Schmitt, dengan adanya musuh ini, meskipun kita akan melalui masa-masa krisis dalam berkonflik dengan musuh, tapi justru hal itu nantinya akan menciptakan sebuah tatanan “order” yang baru atau system yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Karena dalam menghadapi musuh ini maka pikiran, kreativitas, akan terkerahkan dengan optimal dan menghasilkan suatu cara atau system untuk bagaimana agar bisa menang atau menyelesaikan konflik. Konsep “musuh” oleh Carl Schmitt ini sebenarnya sangat dekat dengan konsep “Nir Kekerasan”, karena ketika kita menganggap musuh sebagai saingan atau partner dalam berkonflik, maka kita akan memikirkan banyak cara untuk menghadapinya tanpa menggunakan kekerasan sehingga menghilangan eksistensinya dari dunia ini. Pada akhirnya akan tercipta suatu perdamaian. Jadi, musuh dalam definisi ini akan selalu dibutuhkan oleh manusia, dan itu berarti “konflik” sebenarnya juga dibutuhkan oleh manusia, sehingga “konflik” tidak akan pernah bisa hilang tapi kita harus tahu bagaimana mengelola konflik tersebut kearah positif dan konstruktif. Maka, tidak salah jika tatanan dunia yang ideal akan lahir karena adanya “musuh” dan “konflik” dalam artian yang positif seperti apa yang dijelaskan oleh Carl Schmitt.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-6633283433267158967?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/6633283433267158967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=6633283433267158967' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/6633283433267158967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/6633283433267158967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2010/04/musuhlawan.html' title='(3) Musuh/Lawan'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S9pVCoZN_oI/AAAAAAAAAFs/PlYdp71n4go/s72-c/taman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-6443268958285394979</id><published>2010-04-29T20:38:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T20:42:57.191-07:00</updated><title type='text'>(2) Persahabatan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S9pRr6eAeqI/AAAAAAAAAFk/D8PrVea-TEo/s1600/sahabat.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 238px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S9pRr6eAeqI/AAAAAAAAAFk/D8PrVea-TEo/s320/sahabat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465770912638859938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya yang berjudul Nicomachean Ethics, Aristoteles berpendapat bahwa sahabat dapat dipandang sebagai diri pribadi kedua. seperti halnya perilaku yang bajik memperbaiki diri sendiri, sahabat pun dapat saling meningkatkan – inilah pentingnya persahabatan, dan alasan ini dapat dianggap sebagai sejenis kebajikan. Keberhasilan atau kegagalan seorang sahabat dapat disamakan dengan keberhasilan atau kegagalan seseorang. Aristoteles membagi persahabatan ke dalam tiga jenis, berdasarkan motif dalam membentuknya: persahabatan berdasarkan manfaat, persahabatan karena kesenangan dan persahabatan untuk kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan karena manfaat adalah hubungan-hubungan yang terbentuk tanpa kepedulian terhadap orang lain sama sekali. Bila seseorang membeli suatu barang, misalnya, mungkin ia harus bertemu dengan orang lain, tetapi biasanya hanya tercipta hubungan yang sangat dangkal antara si penjual dan pembelinya. Dalam konteks modern, orang-orang dalam hubungan seperti itu mungkin malah tidak disebut sahabat, melainkan kenalan (kalaupun misalnya mereka saling mengingat yang lainnya setelah transaksi itu). Satu-satunya alasan orang-orang ini berkomunikasi adalah untuk membeli atau menjual sesuatu, dan itu bukan hal yang jelek, tetapi segera setelah motivasi itu hilang, hilang pulalah hubungan antara kedua orang ini, kecuali muncul sebuah motivasi yang lain. Keluhan dan pertikaian biasanya hanya muncul dalam persahabatan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tingkat yang berikutnya, persahabatan untuk kesenangan didasarkan pada kesenangan semata-mata akan kehadiran orang lain. Orang yang minum bersama-sama atau yang memiliki hobi yang sama mungkin mempunyai persahabatan seperti itu. Namun demikian, sahabat-sahabat ini juga akan berpisah – apabila mereka tidak lagi menikmati kegiatan bersama, atau tidak dapat lagi ikut serta bersama-sama di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan karena kebaikan adalah persahabatan di mana anggota-anggotanya menikmati watak yang lainnya. Sejauh sahabat-sahabat ini mempertahankan watak yang sama, hubungan ini akan bertahan karena motif di baliknya adalah kepedulian terhadap sang sahabat. Ini adalah tingkat hubungan yang tertinggi, dan dalam konteks sekarang hal ini dapat disebut sebagai persahabatan sejati.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan konflik, maka persahabatan yang berdasarkan manfaat dan kesenangan lebih rentan untuk terjadinya konflik. Mengapa? Pada jenis persahabatan (atau yang lebih tepatnya kenalan) yang berdasarkan manfaat, manusia yang saling berinteraksi hanya didasarkan pada motivasi atau kepentingan tertentu, tanpa memperdulikan siapa orang yang dihadapi. Setelah motivasi terlaksana dan kepentingan terpenuhi maka selesai sudahlah hubungan interaksi itu. Dalam kondisi seperti ini, setiap orang yang berinteraksi tidak perlu mengenal lebih jauh dengan siapa ia berinteraksi, asalkan kepentingannya terpenuhi maka selesailah hubungan itu. Namun, kondisi seperti ini sangatlah rentan untuk timbulnya konflik jikalau kepentingan atau motivasi itu tidak dapat terpenuhi. Karena satu sama lain tidak saling mengenal lebih jauh, maka ego masing-masing akan muncul untuk mempertahankan dirinya sehingga konflik dan pertikaian tak dapat dielakkan.&lt;br /&gt;Untuk persahabatan yang berdasarkan kesenangan memang setingkat lebih maju dari yang berdasarkan manfaat. Persahabatan berdasarkan kesenangan jauh lebih intens dalam berkomunikasi antara satu orang dengan orang lainnya dalam situasi dan kondisi yang membuat mereka merasa nyaman dan bersenang-senang. Setidaknya antara satu individu dengan individu lainnya memiliki kesamaan dalam hal-hal yang mereka senangi dan itu mereka ketahui. Sehingga terjalinlah hubungan persahabatan. Namun, hubungan persahabatan yang terbentuk hanyalah karena adanya kesamaan dalam hal yang mereka sukai atau senangi, tidak lebih dari itu. Maka, ketika ada hal yang saling mereka tidak senangi dan menghambat mereka untuk mendapati hal yang mereka senangi, hubungan persahabatan itu akan hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik persahabatan dengan berdasarkan manfaat maupun kesenangan memiliki pola yang sama dalam memicu timbulnya suatu konflik, yaitu jika kepentingan dan kesenangan yang diinginkan tidak terpenuhi, maka hubungan yang terjalin akan terputus dan mudah untuk saling bergesekan sehingga konflik dengan mudah terjadi jika ego masing-masing individu sudah terlibat. Ego merupakan suatu hal yang alamiah dalam diri manusia. Ego akan muncul jikalau frustasi sudah melanda manusia dan ini dapat menyebabkan konflik. Dalam teori konflik dijelaskan bahwa sikap frustasi akan muncul ketika orang gagal mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Dalam kondisi seperti ini, jika setiap orang sudah frustasi dan ego masing-masing lebih diutamakan maka tidak ada yang saling mengingatkan untuk menurunkan emosi dan tenang, sehingga konflik memiliki potensi besar untuk terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda halnya dengan persahabatan yang didasari dengan kebaikan, hubungan ini terjalin dan terbentuk karena adanya kepedulian satu sama lain dan berusaha mengetahui lebih dalam serta menerima apa adanya sifat dan watak sahabatnya. Dalam hubungan persahabatan ini, satu sama lain akan berusaha untuk saling mengingatkan jikalau salah seorang sahabat lengah atau khilaf dalam bertindak dan bersikap. Sehingga satu sama lain bisa saling mengontrol emosi dan menjauhkan dirinya dari kondisi yang dapat memicu konflik. Dalam hubungan ini, kepentingan atau kesenangan yang mereka dapati bukanlah menjadi sebuah tujuan utama, tetapi kepedulian dan kebaikan menjadi dasarnya. Manusia sebagai mahluk sosial sebenarnya sangat saling membutuhkan satu sama lain. Sehingga hubungan persahabatan merupakan suatu hal yang niscaya. Namun bagaimana agar hubungan yang ada tidak bersifat destruktif dikarenakan sifat alamiah manusia yang memiliki emosi, agresifitas, egoisme, dan sebagainya, maka diperlukan suatu ajaran dan tata nilai yang dapat mengontrol sifat-sifat itu semua. Mungkin itulah sebabnya agama turun di bumi ini, dengan tata nilai dan ajaran yang kesemuanya untuk kemaslahatan manusia. Agama mengajarkan bahwa persahabatan yang terjalin haruslah berdasarkan hanya karena kepatuhan dan kepatuhan serta mengharap ridhoNya. Dan balasan dari itu semua akan didapat dihari akhir kelak, jika manusia yang beragama itu mengimaninya. Namun, sesungguhnya manfaat dari persahabatan karena kebaikan ini juga akan dirasakan di dunia juga, karena sudah menjadi hukum alam bahwa jika menanam benih kebaikan maka kebaikan pula yang akan kita dapatkan, dan mengenai kapan waktunya kita mendapat balasan kebaikan itu, hanya waktu yang bisa menjawabnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-6443268958285394979?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/6443268958285394979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=6443268958285394979' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/6443268958285394979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/6443268958285394979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2010/04/2-persahabatan.html' title='(2) Persahabatan'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S9pRr6eAeqI/AAAAAAAAAFk/D8PrVea-TEo/s72-c/sahabat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-6740367411480164727</id><published>2010-04-28T20:01:00.000-07:00</published><updated>2010-04-28T20:09:15.087-07:00</updated><title type='text'>Manusia Sebagai Sumber Kekerasan &amp; Konflik (1): Identitas Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S9j32H4FW5I/AAAAAAAAAFc/QkLi-PXrjGU/s1600/konflik.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 226px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S9j32H4FW5I/AAAAAAAAAFc/QkLi-PXrjGU/s320/konflik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465390657013373842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Proses pembentukan identitas menurut Paul Ricoeur, tidak lepas dari penilaian seseorang/orang lain yang menilai atau memberikan persepsi pada diri kita. Sehingga bisa dikatakan bahwa identitas yang ada pada diri kita ini merupakan bentukan dari orang lain.&lt;br /&gt;Bagaimanapun identitas merupakan suatu hal yang dibutuhkan oleh manusia. Baik langsung maupun tidak langsung, identitas akan melekat didalam tubuh manusia dan identitas itu dibutuhkan untuk mendukung eksistensi manusia. Mengapa begitu? Dalam proses perjalanan hidup manusia, manusia memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap segala sesuatu, termasuk terhadap dirinya sendiri. Manusia akan selalu bertanya, siapakah aku ini? Untuk apa aku di dunia ini? Bagaimana aku hidup didunia ini? Mengapa aku ada didunia ini? Dan sebagainya. Sehingga dari pertanyaan dan kegalauannya itu akan tumbuh suatu proses untuk mengenali dirinya sendiri dengan melakukan observasi melihat lingkungan sekitar, melihat orang-orang terdekat, dan manusia akan tahu setidaknya saat itu akan tahu siapa dia, untuk apa dia di dunia dan sebagainya. Proses ini akan terus berlanjut sepanjang hidup manusia. Maka, proses pembentukan identitas ini akan dimulai sedikit demi sedikit dari dalam diri manusia itu sendiri agar mereka tahu apa dan siapa diri mereka ini. Oleh karena itu, konsep identitas ini akan terbentuk dari apa yang disebut konsep diri.&lt;br /&gt;Konsep diri, oleh Stuart (terjemahan Egi, Ramona, 2002 : 186), didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan, dan kepercayaan yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan memengaruhi hubungannya dengan orang lain. Konsep diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat dan dengan realitas dunia.&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya, konsep diri akan terus berkembang dan membentuk identitas kita sebagai manusia. Jadi, identitas akan terus berkembang seiring dengan berkembangnya konsep diri, dan akan mengalami penambahan maupun pengurangan tergantung manusia itu sendiri yang mau menerima atau tidak menerima. Manusia juga tidak bisa menolak bahwa pembentukan identitas pada dirinya tidak hanya bisa dilakukan oleh dirinya sendiri, tetapi ada peran lingkungan dan orang lain. Orang lain atau lingkungan sekitar terkadang akan memberikan nilai-nilai ataupun label pada diri kita sebagai manusia, dan kita bisa menerimanya ataupun tidak menerimanya. Namun, terkadang ada juga yang kita tidak mampu untuk menolaknya meskipun penilaian atau pelabelan itu buruk untuk diri kita sendiri, sehingga terbentuklah suatu identitas yang buruk dalam diri kita ataupun meluas menjadi sebuah identitas buruk bagi orang-orang yang memiliki identitas yang sama dengan kita, atau adanya generalisasi identitas karena satu dengan yang lainnya memiliki ciri identitas fisik atau ciri lainnya yang sama. Sebagai contoh, wanita diberikan identitas yang diskriminatif oleh laki-laki sebagai mahluk yang lemah, yang mana hanya mampu bekerja dirumah dan mengurus anak. Implikasi dari pelabelan/labelling dan penilaian ini memberikan dampak yang buruk pada identitas wanita selama beratus tahun lamanya bahkan hingga kini. Zaman dahulu, bayi wanita terkadang dibunuh ketika lahir, dan sebaliknya jika yang lahir bayi laki-laki maka akan diagung-agungkan. Dalam sebagian besar etnis dan suku yang ada didunia ini, mereka percaya bahwa jika ada yang mesti dijadikan tumbal untuk upacara adat, maka wanita lebih pantas untuk itu. Dalam konsep warisan, wanita juga terkadang hanya sedikit mendapat jatah warisan dibanding laki-laki. Dalam kehidupan modern saat ini, wanita masih diperlakukan diskriminatif disegala lini dan sektor baik ekonomi, politik, sosial dan budaya. Padahal baik wanita maupun laki-laki memiliki potensi yang sama dalam dirinya, tetapi karena “identitas”, wanita diperlakukan tidak adil.&lt;br /&gt;Dari penjelasan diatas, maka Identitas tak jarang menjadi sumber terjadinya konflik kekerasan, yaitu karena adanya perbedaan identitas antara kita dengan yang lain, sehingga menimbulkan apa yang disebut sikap diskriminatif atau prasangka negatif dan pada akhirnya sikap-sikap itu mampu menggiring pada kekerasan baik fisik maupun non fisik. Untuk kasus perlakuan terhadap wanita, tak jarang laki-laki memperlakukan mereka dengan sikap kasar dan mengarah pada kekerasan, baik fisik, non fisik, maupun struktural. Sehingga inilah yang menggiring pada adanya konflik.&lt;br /&gt;Untuk kasus lainnya lagi, identitas terkadang menjadi sebuah kebanggaan bagi setiap individu manusia. Identitas yang menjadi kebanggan ini tentunya merupakan sebuah identias yang terbentuk dengan suatu pelabelan dan pemberian konsep diri yang baik pula sehingga diterima dengan baik oleh manusia dan menjadi sebuah kebanggan serta selalu dicintai. Sehingga identitas tak lepas dari apa yang disebut sebagai konsep cinta.&lt;br /&gt;Menurut Ibn Khaldun, manusia secara fitrah telah dianugerahi rasa cinta terhadap garis keturunan, golongan dan kelompoknya, yang artinya cinta terhadap identitas yang terbentuk dalam golongan atau keturunan tersebut. Rasa cinta ini menimbulkan perasaan senasib dan sepenanggungan serta harga diri dan kebanggaan kelompok, kesetiaan, kerjasama, dan saling membantu dalam menghadapi musibah atau ancaman yang pada akhirnya akan membentuk kesatuan dan persatuan kelompok.&lt;br /&gt;Cinta sebagai sebuah konsep masuk dalam perbincangan filsafat melalui agama, khususnya ketika asal mula dunia dilukiskan sebagai suatu tindakan penciptaan dan pencipta yang diakui sebagai yang memcintai ciptaanNya, baik secara keseluruhan atau sebagian. Cinta sebagai salah satu dorongan manusia yang paling kuat, awalnya lebih dilihat sebagai kebutuhan akan kontrol, teristimewa ketika manusia sebagai rasional animale mampu menggunakan kemampuan rasionalnya. Cinta juga dipercaya mempunyai kekuatan untuk menyatukan manusia dalam suatu ikatan yang umum.&lt;br /&gt;Ketika manusia hidup bersama-sama dalam suatu kelompok yang memiliki ikatan yang kuat yang didasari cinta terhadap (identitas) kelompok tersebut, maka manusia tersebut tidak akan rela jika salah satu anggota atau sebagian besar anggota kelompoknya terhina oleh kelompok lain yang berbeda identitas dengan mereka. Sehingga dengan segala daya dan upaya mereka akan membelanya dan mengembalikan kehormatan mereka.&lt;br /&gt;Sebagai sebuah fitrah, maka rasa cinta terhadap (identitas) kelompok ini terdapat pula pada semua bentuk masyarakat, baik dalam bentuknya yang primitif maupun dalam perkembangannya yang modern. Perbedaannya hanya pada faktor pengikatnya. Dalam masyarakat primitif, faktor pengikatnya adalah ikatan darah atau garis keturunan. Sedangkan dalam masyarakat modern yang ikatan darahnya sudah tidak murni lagi satu suku, maka ikatannya didasarkan atas kepentingan-kepentingan anggota kelompok maupun yang secara imaginer menjadi kepentingan kelompok.&lt;br /&gt;Konflik antar agama yang terjadi di Ambon, Poso, dan ditempat-tempat lainnya, merupakan salah satu contoh konflik kekerasan yang bermula dari adanya rasa yang tidak menerima akan adanya penghinaan ataupun pelecehan terhadap salah satu anggota kelompoknya (dalam hal ini antara kelompok agama islam-kristen). Agama sebagai sebuah identitas yang menyatukan anggota-anggota kelompok orang-orang yang beragama islam dan kristen akhirnya tidak menerima dan terjadilah konflik kekerasan yang menelan ratusan nyawa melayang.&lt;br /&gt;Maka, “identitas” yang ada didalam diri manusia dapat dikatakan sebagai sumber terjadinya konflik baik fisik maupun non fisik. Lalu apakah “identitas” ini mesti dihilangkan agar konflik dapat dimusnahkan? sementara manusia juga membutuhkan “identitas”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-6740367411480164727?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/6740367411480164727/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=6740367411480164727' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/6740367411480164727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/6740367411480164727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2010/04/manusia-sebagai-sumber-kekerasan.html' title='Manusia Sebagai Sumber Kekerasan &amp; Konflik (1): Identitas Diri'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S9j32H4FW5I/AAAAAAAAAFc/QkLi-PXrjGU/s72-c/konflik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-5708402465295866038</id><published>2010-04-16T01:38:00.000-07:00</published><updated>2010-04-16T01:43:28.977-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='essay'/><title type='text'>Tragedi Mbah Priok</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S8gjFbs3WRI/AAAAAAAAAFU/V5NOs5o-ef0/s1600/86115_santri_gunakan_senjata_tajam_cegah_penggusuran_makam_mbah_priok.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S8gjFbs3WRI/AAAAAAAAAFU/V5NOs5o-ef0/s320/86115_santri_gunakan_senjata_tajam_cegah_penggusuran_makam_mbah_priok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460653124428978450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kita kembali menyaksikan konflik kekerasan yang melanda negeri ini. Tragedi Mbah Priok telah menelan korban jiwa 3 orang petugas Satpol PP, 146 orang luka-luka dan beberapa kendaraan bermotor milik disekitar daerah konflik habis dibakar warga Koja, Tanjung Priok. Meskipun tidak separah Tragedi Tanjung Priok pada tahun 1984, yang menelan korban hingga ratusan jiwa, namun tragedi Mbah Priok tetap menelan korban jiwa, sebuah roman bangsa yang tidak beradab terjadi kembali di era yang menjunjung tinggi HAM dan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu konflik kerap kali dimulai dengan masalah yang kecil dan remeh. Jika melihat berita yang dilansir media elektronik pada saat proses mediasi antara pihak pemerintah DKI Jakarta dengan warga Koja serta pihak Pelindo, Wakil Gubernur DKI menjelaskan bahwa sebenarnya pemprov bukan ingin menggusur makam Mbah Priok, tetapi menata jalan disekitar makam mbah priok yang berdekatan dengan pelabuhan tanjung priok agar pelabuhan tanjung priok memenuhi standar internasional. Hal ini juga dikeluhkan pihak Pelindo sebagai pihak yang akan melakukan penataan pelabuhan, dimana kapal-kapal angkutan barang dari China dan negara-negara lain di Asia yang akan menuju ke Amerika tidak mau bersandar dipelabuhan Tanjung Priok karena tidak memenuhi standar internasional, dan ini jelas mempengaruhi kegiatan ekonomi di Indonesia, khususnya didaerah Tanjung Priok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, makam Mbah Priok yang dibela warga setempat menurut Wakil Gubernur DKI sebenarnya sudah dipindahkan ke Tempat Pemakaman Umum lainnya. Jadi, jasad Mbah Priok sudah tidak ada di daerah Tanjung Priok itu. Hanya saja sebagian masyarakat masih percaya bahwa jasad Mbah Priok masih ada disitu. Pemprov DKI sendiri tidak akan menggusur makam tersebut, karena makam Mbah Priok telah diakui sebagai salah satu situs cagar budaya dan sejarah Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, Tragedi Mbah Priok ini tidak seharusnya terjadi jika diantara pemerintah dan pihak warga Koja melakukan komunikasi dengan baik berkaitan rencana penataan Cagar Budaya Makam Mbah Priok. Namun, nasi telah menjadi bubur. Korban telah berjatuhan. Baik dari pihak Satpol PP maupun warga setempat kedua-duanya salah. Tidak seharusnya kedua belah pihak yang bertikai melakukan tindakan kekerasan. Satpol PP sebagai aparatur pemerintah harusnya lebih melindungi masyarakat dan menegakkan peraturan daerah dengan cara yang nir-kekerasan, begitupun juga warga setempat yang mayoritas bergama islam dan sering mengadakan pengajian di Makam Mbah Priok seharusnya tidak bertindak anarkis dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur agama islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dibalik terjadinya tragedi Mbah Priok ini, apa sebenarnya yang menyebabkan konflik ini menjadi sebuah tragedi yang menelan korban jiwa yang cukup banyak dan amarah warga sangat memuncak? Padahal daerah Koja ini sebelumnya merupakan daerah yang harmonis dan tentram, tetapi kini menjadi daerah mencekam dan masih diliputi emosi serta perasaan tidak aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa konflik Mbah Priok bisa meledak?&lt;br /&gt;Menurut George Simmel (1991), seorang ahli sosiologi, memandang bahwa konflik merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan di dalam suatu masyarakat. Simmel mengajukan suatu proposisi tentang intensitas konflik bahwa suatu konflik kekerasan akan muncul dan semakin membesar jika solidaritas diantara anggota kelompok yang terlibat itu kuat, dan semakin besar keharmonisan yang ada sebelumnya diantara anggota yang terlibat konflik, semakin besar pula tingkat keterlibatan emosinya. Selain itu, semakin suatu konflik dirasakan oleh para anggota yang terlibat konflik sebagai sesuatu yang memperjuangkan kepentingan mereka, semakin cenderung konflik akan semakin keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika melihat masyarakat Koja diderah sekitar Makam Mbah Priok, maka solidaritas mereka sangatlah kuat. Masyarakat ini sering melakukan pengajian dan ziarah yang diadakan di makam Mba Priok yang dikeramatkan. Ikatan solidaritas ini secara tidak langsung telah diperkuat oleh simbol makam Mbah Priok. Satu hal lagi bahwa komunitas yang muncul dari hasil pengajian di makam mbah priok ini cenderung bersifat militan. Sehingga ketika berhembus isu yang belum tentu benar adanya, mengenai penggusuran makam Mbah Priok, yang notabene merupakan yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat, maka rasa solidaritas itu muncul dan menguat untuk membela simbol yang diagungkan dan dikeramatkan itu. Ditambah juga sikap militan warga setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bagaimanapun ini juga tak lepas dari persepsi warga terhadap Satpol PP. Persepsi ini juga sangat mempengaruhi sikap warga dalam proses terjadinya konflik ini. Satpol PP yang umum dipersepsikan dengan petugas yang tanpa ampun dan selalu menggunakan kekerasan dalam setiap aksinya menggusur pedagang kaki lima, rumah dan tanah sengketa, dan sebagainya, yang imej ini memberikan persepsi negatif warga dalam memandang Satpol PP. Ditambah lagi Satpol PP yang diperlengkapi dengan alat-alat dan instrumen kekerasan seperti pentungan, membuat warga melihat Satpol PP ini merupakan musuh mereka yang akan mengganggu keharmonisan daerah Koja yang sebelumnya dalam keadaan aman dan tentram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita akan bertanya, mengapa para tokoh dan pemuka masyarakat dan agama saat  itu tidak memberikan suatu arahan dan nasehat kepada warga setempat untuk tidak melakukan kekerasan saat itu. Bagaimanapun, arahan dan masukan itu sebenarnya akan kurang efektif karena masyarakat sudah tidak dalam kondisi emosi yang tidak normal. Keterlibatan emosional ini dipengaruhi oleh adanya tingkat solidaritas dan harmonitas yang tinggi antara para anggota kelompok masing-masing. Dengan demikian dapat diduga bahwa kebrutalan yang terjadi dalam peristiwa konflik Mbah Priok dikarenakan adanya rasa sakit hati atau kecewa karena telah ada yang mengganggu harmonitas yang sebelumnya dinikmati. Oleh karena itu, maka menjadi wajar jika kekerasan atau kebrutalan justru terjadi di dalam masyarakat yang tadinya relatif damai. Selain itu, konflik akan semakin brutal jika kekerasan tersebut dipersepsi oleh para pelaku sebagai media atau alat untuk memperjuangkan kepentingan mereka yang sangat prinsipil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang mesti dilakukan selanjutnya?&lt;br /&gt;Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pemberi komando kepada Satpol PP dan juga warga Koja, tanjung Priok, kedua belah pihak ini sudah seharusnya melakukan pembenahan. Dari pihak pemerintah daerah sudah seharusnya dalam setiap praktek dilapangan yang dilakukan oleh Satpol PP menggunakan konsep nir kekerasan, yaitu lebih mengutamakan negosiasi dan diskusi yang merangkul semua elemen yang terlibat. Jika masih menggunakan kekerasan, maka pemerintah sekarang tidak ada jauh bedanya dengan pemerintah rezim orde baru dahulu yang represif. Kebiasaan-kebiasaan represif dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan sesuatu justru cenderung akan membuat sebuah kekerasan baru yang muncul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah harus menghapus tindakan semena-mena terhadap masyarakat yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Dalam proses mediasi antara pemerintah, warga Koja dan Pelindo, ada bukti yang diperlihat warga dalam sebuah draft mengenai ketidakadilan pemerintah daerah yang belum memberi ganti rugi atas pengambilalihan tanah warga, yang mana sudah bertahun-tahun terbengkalai. &lt;br /&gt;Dari sisi masyarakat setempat, sudah seharusnya tokoh agama dan masyarakat setempat untuk memanfaatkan media pengajian di Makam Mbah Priok untuk lebih mendakwahkan dan memberi nasehat kepada warga untuk dalam setiap sikap dan tindakan agar tidak mengutamakan kekerasan, bukan malah mengutamakan militanisme. Islam merupakan agama yang rahmatan lil'alamiin, yang banyak membawa pesan perdamaian. Sehingga ummat islam di Koja seharusnya mencerminkan islam yang damai, bukan islam yang menjunjung kekerasan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-5708402465295866038?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/5708402465295866038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=5708402465295866038' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/5708402465295866038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/5708402465295866038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2010/04/tragedi-mbah-priok.html' title='Tragedi Mbah Priok'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S8gjFbs3WRI/AAAAAAAAAFU/V5NOs5o-ef0/s72-c/86115_santri_gunakan_senjata_tajam_cegah_penggusuran_makam_mbah_priok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-3636279210384421141</id><published>2010-03-31T02:07:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T02:16:34.088-07:00</updated><title type='text'>Konsep 'Nir Kekerasan'</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S7MSvIhPPuI/AAAAAAAAAFM/x6BOtVj-Y2o/s1600/kekerasan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 258px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S7MSvIhPPuI/AAAAAAAAAFM/x6BOtVj-Y2o/s320/kekerasan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454724174625849058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;  	&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt; 	&lt;title&gt;&lt;/title&gt; 	&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.1  (Linux)"&gt; 	&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pernahkah anda mendengar mengenai konsep nir kekerasan? Ya, ini merupakan suatu konsep yang belum terlalu familiar, karena konsep“kekerasan” lebih sering didengar dan dipraktekkan dalam penyelesaian masalah atau konflik,  daripada 'nir kekerasan', dan pada akhirnya menimbulkan perdebatan apakah nir kekerasan itu sebuah keniscayaan atau hanya suatu hal yang utopis, dan apa batasan-batasannya? Karena itu, maka “kekerasan” harus kita ketahui terlebih dahulu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Untuk menjawab kegalauan dan kebingungan saya itu, maka boleh kiranya saya mengutip sebuah tulisan Hasan Hanafi dalam bukunya: Agama, Kekerasan, &amp;amp; Islam Kontemporer, yang memaparkan bahwa kekerasan muncul bila eksistensi manusia terancam. Ketidakadilan social merupakan salah satu bentuk keterancaman eksistensi tersebut, karena penghancuran bertentangan dengan eksistensi manusia. Dalam sejarah, institusi politik merupakan media ekspresi entitas manusia. Kekerasan sangat mungkin terjadi jika fungsi tersebut hancur dan kehidupan social tidak akan tertata. Fenomena ini disebut dengan diaspora. Karena Negara adalah institusi tertinggi yang merupakan muara dari segala macam institusi yang ada, maka menghancurkan Negara akan menjadi penyebab serius dalam terjadinya kekerasan dalam skala besar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bilamana kekerasan terjadi? Kekerasan terjadi dalam lingkungan tertentu dimana hanya kekerasan yang menjadi satu-satunya jalan untuk mengekspresikan eksistensi kemanusiaan. Kekerasan hanyalah manifestasi eksternal dan yang terakhir setelah upaya yang panjang dan berliku dilewati. Kekerasan dimulai dari situasi yang terbentuk oleh tiga elemen: pertama, perasaan mendalam dari individu, kelompok, dan bangsa akan ketidakadilan dan keputusasaan; kedua, ketidakberdayaan individu, kelompok dan masyarakat dalam mengubah ketidakadilan tersebut melalui cara nir kekerasan; ketiga, ketiadaan dialog antara pelaku ketidakadilan dan korbannya, atau mungkin ada namun sekedar dialog semu. Pada momen seperti ini, dialektika kekerasan dan nir kekerasan mengalami guncangan luar biasa. Ketegangan antara tesis dan antithesis dalam dialektika tersebut mencapai puncaknya. Meledaknya gerakan kekerasan, baik yang bersifat represif maupun revolusioner, menjadi pertimbangan historis penting dalam penelitian untuk menemukan jalan tengah dalam proses dialektika.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam bukunya, Agama &amp;amp; Budaya Perdamaian, Prof. Chaiwat Satha Anand, mencoba untuk membuktikan bahwa nir kekerasan merupakan suatu hal yang jelas ada. Beliau menjelaskan secara gamblang mengenai ajaran-ajaran agama besar di dunia yang pada intinya mengandung dan membawa pesan-pesan damai. Dimulai dari ajaran islam, sebelum masuk kearah nilai dan pesan damai yang dibawanya, islam sering kali dipandang sebagai agama yang mengajarkan kekerasan. Terutama pada konsep “jihad” yang menjadi banyak sorotan para pemikir Barat. Namun disini konsep Jihad yang sebenarnya bukanlah berperang ataupun melakukan tindakan kekerasan dengan membabi buta dan berlandaskan fanatisme. Justru Jihad yang sebenarnya adalah berarti menentang penindasan, kezaliman, dan ketidakadilan dalam semua bentuknya. Ibn Taymiya menjelaskan bahwa terkadang jihad dicapai melalui perasaan, kadang-kadang melalui lidah, atau melawan kelemahan dan kebusukan hati kita sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tindakan nir kekerasan itu sendiri tercermin dalam tindakan suri tauladan Nabi Muhammad, Yesus, Gandhi, dan Sidharta Gautama, yang mewakili agama-agama besar di dunia ini. Nabi Muhammad sebagai suri tauladan dalam agama islam, yang mana mampu mengamalkan nilai-nilai ajaran islam dalam kehidupan nyata memperlihatkan tindakan nir kekerasannya. Sebagai contoh pada saat persengketaan pembangunan Kaabah, beliau Rasulullah menyelesaikan masalah kaummnya dengan tindakan yang arif tanpa kekerasan. Pun yang terjadi pada saat beliau kembali ke Mekkah (peristiwa penaklukan Mekkah) tindakan yang dilakukan oleh seorang Muhammad adalah justru memaafkan penduduk Mekah yang dulu memusuhinya. Yesus juga mengalami hal yang sama seperti Nabi Muhammad, yang mana ketika ia disiksa dan disalib, ia justru mendoakan orang-orang yang menyakitinya agar mereka dibukakan pintu hatinya dan dihapuskan dosa-dosanya karena ketidaktahuannya. Gandhi melalui ahimsa-nya dalam melawan kolonialisme di India merupakan suatu tindakan nir kekerasan yang justru membuatnya rela berkorban demi terciptanya kedamaian. Contoh-contoh yang sudah diapaprkan merupakan suatu nilai-nilai ideal agama yang sudah menjadi satu dalam tubuh dan jiwa orang-orang terpilih tadi, yang membuktikan bahwa tindakan nir kekerasan untuk mencapai yang disebut sebagai suatu perdamaian merupakan suatu hal yang nyata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun, satu hal yang ingin saya tambahkan dalam tulisan Prof. Chaiwat Satha Anand bahwa beliau terlewatkan dalam menjelaskan bagaimana agama-agama besar tersebut, dengan segala nilai-nilai luhur dan perdamaiannya itu, mampu diinterpretasikan dengan bijak dan benar oleh orang-orang terpilih itu, karena tidak semua orang mampu meniru dan menauladaninya, yang mana terkadang terjebak dalam subyektifitas interpretasi yang cenderung mengikuti hawa nafsu manusia itu sendiri dan menolak nilai-nilai ideal yang bertolak belakang dengan agresifitas dan nafsu manusia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lepas dari nilai ideal ajaran agama, yang mencerminkan tindakan nir kekerasan dalam menyelesaikan konflik dan masalah. Yang menjadi sebuah tantangan besar dalam mewujudkan tindakan nir kekerasan adalah tindakan-tindakan ketidakadilan yang sangat sering terjadi dalam kehidupan social sehingga terjadilah pembangkangan social yang merupakan sebagai bentuk ekspresi dalam melawan ketidakadilan ini, dan tentunya dalam bentuk kekerasan. Selain itu, represi Negara merupakan satu hal yang tanpa kita sadari merupakan suatu bentuk ancaman yang selalu ada dalam kehidupan bernegara, yang mana sangat bertolak belakang dengan konsep ideal Negara tetapi selalu eksis hingga saat ini. Tantangan-tantangan ini merupakan suatu hal yang mesti dihadapi oleh penganut ajaran nir kekerasan dan pada akhirnya jangan sampai “nir kekerasan” hanya akan menjadi sebuah slogan utopis belaka. Negara sebagai sebua institusi politik yang mewadahi kehidupan rakyatnya sudah seharusnya belajar untuk eksisten melakukan tindakan nir kekerasan, dan hal ini haruslah dimulai dari individu manusia masing-masing terlebih dahulu. Sehingga dengan terusnya dan membudayanya hal itu maka proses dialektika dan perputaran sejarah budaya akan mampu menciptatakan apa yang disebut sebagai budaya perdamaian dalam kehidupan manusia di bumi ini, dan hal ini merupakan suatu hal yang niscaya meskipun tantangan-tantangan yang besar akan selalu ada dihadapannya. Agama yang memiliki nilai-nilai sejati perdamaian tidak dapat disangkal menjadi sebuah doctrinal positif yang merasuki alam pikiran dan tindakan manusia sehingga budaya perdamaian yang menjadi harapan dan cita-cita umat manusia dapat terwujud.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-3636279210384421141?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/3636279210384421141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=3636279210384421141' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/3636279210384421141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/3636279210384421141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2010/03/konsep-nir-kekerasan.html' title='Konsep &apos;Nir Kekerasan&apos;'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/S7MSvIhPPuI/AAAAAAAAAFM/x6BOtVj-Y2o/s72-c/kekerasan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-3181605619513785092</id><published>2009-06-02T21:24:00.000-07:00</published><updated>2009-06-02T21:34:29.054-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='essay'/><title type='text'>IndonesiaKu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SiX9FBabb9I/AAAAAAAAAE4/DlCf1Ojaheg/s1600-h/indonesia.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 224px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SiX9FBabb9I/AAAAAAAAAE4/DlCf1Ojaheg/s320/indonesia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342954795665420242" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;Seorang teman saya berkata kepada saya bahwa di luar negeri saat ini sudah mulai banyak pusat studi yang mengajarkan bahasa Indonesia. &lt;font style=""&gt; &lt;/font&gt;Menurut data Kajian Indonesia-Depdiknas, tercatat sekitar 73 negara telah memiliki Pusat Studi Bahasa Indonesia yang mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia di negaranya masing-masing.  Saat mendengar hal itu, sedikit kegembiraan dalam hati saya, karena ternyata bahasa Indonesia ternyata banyak diminati oleh orang-orang di luar Indonesia. Menurut pandangan saya, jelas hal ini merupakan suatu langkah dari apa yang disebut sebagai diplomasi kebudayaan Indonesia, karena mempelajari bahasa bukan hanya sekadar mempelajari bahasa itu, tetapi juga mempelajari kebudayaan, kehidupan dan nilai-nilai sosial tempat bahasa itu berasal. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;Tentunya hal ini akan lebih memperkenalkan Indonesia kepada dunia bahwa kita adalah bangsa yang beradab dengan nilai sosial budaya dan keramahtamahan yang tinggi dan luhur.&lt;br /&gt;Sebelum saya mengetahui kabar ini dari teman saya, saya sudah pernah mendengar isu bahwa Bahasa Indonesia pun sebenarnya bisa dijadikan salah satu bahasa Internasional PBB, karena pengucap bahasa Indonesia cukup banyak dan bahkan melebihi bahasa Arab, hanya saja ada syarat-syarat tertentu yang mesti dipenuhi oleh pemerintah Indonesia sendiri jika ingin Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Internasional.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;Namun, muncul sedikit kekecewaan dalam hati saya karena ucapan dari teman saya tersebut, bahwa ia memandang fenomena ini hanya sebagai sebuah 'kepentingan asing', yang mana ingin mempelajari bahasa dan budaya Indonesia lalu memakainya sebagai alat untuk 'menguasai dan mengeksploitasi' kekayaan bangsa Indonesia. Bahkan ia dengan sinis mengatakan, " Emang apa bagusnya bahasa Indonesia sehingga orang  asing pengen mempelajarinya, kalau bukan karena ingin mengeksploitasi Indonesia ini,bukan?" &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;Sedikit kegembiraan yang saya rasakan sebelumnya terhapus oleh banyak kekecewaan atas realita gambaran generasi muda saat ini yang terlalu sinis dan memandang remeh kekayaan bangsanya sendiri. Apakah generasi muda Indonesia saat ini telah malu menjadi bangsa Indonesia sehingga segala sesuatu yang berbau Indonesia selalu dipandang remeh dan sinis?&lt;br /&gt;Gambaran serupa saya dapati saat membaca sebuah Catatan Mira Lesmana dalam harian Kompas, bahwa ia melihat fenomena genarasi muda dengan budaya ‘&lt;i style=""&gt;ikut-ikutan&lt;/i&gt;’secara tidak langsung telah menyempitkan dan memiskinkan Indonesia yang kaya raya. Saat ia melakukan promo filmnya keradio-radio diluar daerah Jakarta, penyiar radio yang notabene adalah anak muda dengan lancarnya bercuap-cuap ibarat penyiar radio di Jakarta, lengkap dengan selipan bahasa inggris-nya. Maka Mira Lesmana berkata,” hilanglah sudah keindahan lokal Indonesia saat ini”. Mira Lesmana sempat menanyakan kepada sang penyiar tersebut, mengapa mereka harus mengikuti bak penyiar radio di Jakarta, maka sang penyiar menjawab, “kalau kita gak seperti ini maka kita gak dianggap gaul dan pasti rating radio ini akan turun”. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;Mira Lesmana juga melihat bahwa film-film dan sinetron di Indonesia sekarang ini sangat didominasi oleh tema dan genre yang sama, yaitu mengangkat seputar kehidupan di jakarta. Bahkan film hantu-hantunya didominasi oleh hantu-hantu Jakarta seperti Terowongan Casablanca, Jembatan Ancol, dan sebagainya. Begitu sempitkah Indonesia ini, sehingga tak ada topik lain yang bisa diangkat?Bukankah masih banyak keindahan lokal, entah itu kehidupan sosial masyarakat didesa yang penuh dengan keunikan dan nilai-nilai kearifan lokal yang tinggi? Negeri ini adalah negeri yang kaya, bukan sebuah negeri yang miskin!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;Saat saya melihat kepopuleran batik, dimana batik telah menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi bangsa ini, saya justru merasa sedih. Apakah hanya batik yang kita miliki? Masih banyak seni tenun lainnya yang belum terjamah dan harus dipopulerkan seperti batik, mengapa hanya batik yang harus populer? Negeri kita ini adalah negeri yang kaya, ada banyak corak tenun kain yag berbeda dan memiliki ciri khas tersendiri sesuai daerahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;Saat anak-anak muda masa kini digandrungi dengan musik-musik Barat, lalu ketika Band-Band beraliran melayu bermunculan mereka malah dicemooh, padahal kita sendiri adalah orang-orang dari ras melayu, mengapa kita justru bangga dengan aliran musik yang justru kebarat-baratan? Bukaannya saya benci atau alergi dengan segala musik dari barat, hanya saja mengapa kita justru jarang menghargai musik dari bangsa kita sendiri?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;Mungkin apa yang saya paparkan sebelumnya hanyalah sedikit gambaran realitas generasi muda Indonesia saat ini dalam memandang bangsanya sendiri, yang dari hal tersebut saya bisa mengambil hipotesa bahwa kondisi generasi muda Indonesia saat ini berada dalam tahapan yang mengganggap sinis dan remeh bangsanya sendiri sehingga ‘memiskin’ negeri yang kaya ini. &lt;font style=""&gt; &lt;/font&gt;Benarkan anggapan saya ini?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;font style="font-style: italic;"&gt;gambar diunduh dari: www.indonetwork.co.id/RadioZoneIndonesia/8842&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-3181605619513785092?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/3181605619513785092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=3181605619513785092' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/3181605619513785092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/3181605619513785092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2009/06/indonesiaku.html' title='IndonesiaKu'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SiX9FBabb9I/AAAAAAAAAE4/DlCf1Ojaheg/s72-c/indonesia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-6810839095568111766</id><published>2009-05-24T21:21:00.001-07:00</published><updated>2009-05-24T21:43:49.525-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='essay'/><title type='text'>Bingung Memilih Capres-Cawapres</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/ShoehIo2rtI/AAAAAAAAAEk/GsWH6gpLjmU/s1600-h/30385.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 308px; height: 228px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/ShoehIo2rtI/AAAAAAAAAEk/GsWH6gpLjmU/s320/30385.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339613862804500178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Canam%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Canam%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Canam%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Jika ditanya mengenai siapa calon presiden dan wakil presiden yang akan aku pilih nanti pada pemilu presiden, jujur aku akan menjawab bahwa aku masih bingung. Jawaban yang kulontarkan ini mungkin akan sama dengan jawaban orang kebanyakan. Namun, jawaban ini lebih baik dari pada kita tidak peduli sehingga kita menjadi golput atau bahkan &lt;i style=""&gt;ikut-ikutan&lt;/i&gt; atau malah memilih karena dibayar. Tak ada yang salah jika aku dan yang lainnya masih bingung untuk memilih siapa. Sebagai generasi muda intelektual yang menjunjung tinggi idealisme dan budaya kritis, sepatutnya kita menganalisa, mengkritisi, mempelajari atau bahkan meneliti siapa capres-cawapres yang akan kita pilih nantinya. Jangan sampai kita menjadi orang yang oportunis dan &lt;i style=""&gt;follower.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Tiga pasang capres-cawapres sudah cukup membuat berjuta-juta rakyat Indonesia ini bingung dengan apa yang akan mereka pilih nantinya. Sementara tiga pasanga capres-cawapres terus menebarkan pesonanya diatas kegelisahan dan kebingungan rakyat. Rakyat akan selalu menjadi korban, ibarat habis manis sepah dibuang. Apa yang didapatkan rakyat kebanyakan harapan-harapan hampa dan sedikit hak yang memang semestinya menjadi hak mereka, tetapi hal itu dibungkus ibarat sebuah hadiah atas hasil jerih payah pemimpin itu. Rakyat dibohongi! Jika tak ingin dibohongi maka kita harus kritis dalam memandang sesuatu. Jangan sampai kita terjebak dalam pencitraan yang bersifat sementara yang membutakan mata dan membius hati kita sehingga terjebak dalam lubang penyesalan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Maka, bingung adalah wajar untuk saat ini. Untuk menjadi kritis adalah perlu perjuangan. Setiap harinya kita disumpal oleh pencitraan-pencitraan palsu, atau bahkan ada yang benar, tapi kita telah dibius oleh pencitraan palsu sehingga kita tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Ya, menjadi kritis atau bahkan obyektif itu susah dan berat dalam situasi sekarang ini.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Saat kita mendapatkan informasi bahwa SBY-Berbudi merupakan calon yang handal karena prestasi mereka yang gemilang, tata krama baik, gaya bicara yang halus, maka jangan serta merta kita membenci atau meremehkan calon yang lain, karena disisi lain kita juga mendapatkan berita bahwa SBY-Berbudi merupakan calon yang tidak pro-rakyat dengan ideology neoliberalnya, yang mana akan semakin membuat jurang kemiskinan semakin lebar dan asset-aset bangsa akan dikuasai asing. Nah, lalu mana yang benar dari informasi ini?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Lain lagi dengan calon JK-Win. Pasangan ini, terutama dari kubu JK dikatakan sebagai pebisnis yang handal, pro ekonomi rakyat, gesit dan tanggap dalam mengambil keputusan. Namun, mengapa pada masa jabatannya JK justru tidak mampu membendung kebijakan penghapusan subsidi bahan bakar minyak yang notabene tidak pro-rakyat? Lalu apa yang benar?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Sedangkan pasangan Mega-Pro dengan ideology marhaensnya, yang mana menunjukkan ketegasannya bahwa mereka pro-rakyat dan memiliki rasa nasionalisme tinggi, tapi justru, khususnya pada masa pemerintahan megawati, banyak BUMN-BUMN yang dijual kepada asing. Bukankah itu yang juga disebut sebagai neoliberalisme? Belum lagi &lt;i style=""&gt;bad track record&lt;/i&gt; Praobowo pada masa orde baru yang jelas-jelas melanggar demokratisasi yang sedang berjalan dalam diri bangsa ini.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Jadi, wajar jika aku dan yang lainnya menjadi bingung untuk memilih. Siapapun tidak ingin terjebak dalam janji-janji palsu dan pencitraan palsu para capres-cawapres. Media, baik cetak dan elektronik, berperan penting disini sebagai pengayom, pemfilter, dan edukasi, bagi rakyat untuk menjadi bangsa yang kritis dan obyektif. Hentikan budaya oportunis dan &lt;i style=""&gt;follower&lt;/i&gt; sejak saat ini. Jika tidak, maka hal itu akan mendarah daging dalam bangsa ini dan menghancurkan bangsa kita dari dalam.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;(gambar diunduh dari: www.inilah.com)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-6810839095568111766?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/6810839095568111766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=6810839095568111766' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/6810839095568111766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/6810839095568111766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2009/05/bingung-memilih-capres-cawapres.html' title='Bingung Memilih Capres-Cawapres'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/ShoehIo2rtI/AAAAAAAAAEk/GsWH6gpLjmU/s72-c/30385.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-7816826122948487437</id><published>2009-03-26T22:49:00.000-07:00</published><updated>2009-03-26T23:01:19.786-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='info'/><title type='text'>Sekilas Tentang Belanda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/Scxq-AKcWlI/AAAAAAAAAD8/KFcj6R8pnZo/s1600-h/amsterdam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 166px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/Scxq-AKcWlI/AAAAAAAAAD8/KFcj6R8pnZo/s200/amsterdam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317742873445947986" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} a:link, span.MsoHyperlink 	{mso-style-priority:99; 	color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	color:purple; 	mso-themecolor:followedhyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;font lang="EN-US"&gt;Belanda. Apa yang terpikirkan dibenakmu ketika mendengar kata ‘Belanda’? Apakah kagum, benci, biasa-biasa saja, atau tidak tahu? Ya, mungkin ada berbagai macam pikiran tentang Belanda, yang pasti ‘Belanda’ bagi orang Indonesia khususnya sudah memberikan suatu goresan sejarah yang tidak akan pernah dilupakan bahkan hingga dunia ini kiamat. Baik buruknya konotasi ‘Belanda’ bagi kita, disini saya hanya ingin berbagi sedikit informasi tentang Belanda yang baru saja saya dapat dari seorang teman yang memang sudah pernah mengunjungi negeri kincir angin tersebut dan menuntut ilmu disana. Sebab jujur, Belanda yang saya tahu selama ini hanyalah sebuah gambaran negeri aggressor yang kecil, tidak lebih dari itu. Namun, ada sebuah sisi lain pada negeri Belanda ini yang sebenarnya patut untuk diberi perhatian, terutama oleh kita sebagai bangsa yang pernah dijajah oleh mereka agar dapat dijadikan sebagai sebuah pelajaran.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;font lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;font lang="EN-US"&gt;Pertama, bahwa negeri Belanda itu sangat kecil, paling sebesar provinsi Banten, tetapi memiliki kekuatan tangible yang cukup kuat untuk menopang eksistensi negara dan rakyatnya. Itulah sebabnya, kita seharusnya patut untuk lebih giat lagi belajar dalam membangun negeri kita ini karena Indonesia sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi negara besar jika dibandingkan Belanda. Indonesia memiliki luas wilayah yang luar biasa, kekayaan alam yang sangat melimpah. Betul apa yang dikatakan Koes Plus bahwa tongkat yang dilemparkan pun bisa jadi tanaman. Sementara di Belanda tidak bisa. Tanah negeri Belanda adalah pasir, seperti pasir yang bisa kita temui di pantai. Selain luas wilayah yang kecil, mereka juga menghadapi masalah air sejak dulu hingga sekarang. Masalahnya adalah sebagian negeri mereka berada dibawah permukaan laut, karena itu mereka membuat bendungan di pantai. Bila kita berdiri di bendungan itu, maka kita akan melihat bahwa permukaan laut lebih tinggi dari permukaan tanah.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;font lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;font lang="EN-US"&gt;Hal lain yang mesti kita ketahui juga, bahwa cuaca di Belanda sangat buruk. Orang Belanda juga mengatakan hal serupa. Angin kencang dan mendung sering terjadi, dan karena 4 musim, maka kita akan jarang menemukan panas. Musim gugur, musim dingin, dan semi pada dasarnya dingin juga. Sementara musim panas yang 4 bulan lamanya tidak benar-benar 4 bulan, karena awal musim panas dan diakhirnya cuaca tetap saja dingin. Sementara puncak musim panas paling hanya satu bulan saja. Dengan demikian, sinar matahari disana menjadi sangat berharga. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;font lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;font lang="EN-US"&gt;Kita orang Indonesia yang sepanjang tahun menerima sinar matahari menjadi mengerti betapa Indonesia adalah surga. Cerita orang-orang Belanda yang dahulu pergi ke Indonesia juga mengatakan seperti itu. Namun, karena kita terbiasa hidup enak, jadi kita lupa bahwa telah diberi nikmat yang luar biasa oleh Allah SWT. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;font lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;font lang="EN-US"&gt;Selain soal cuaca, persoalan hubungan antar personal juga tidak enak. Berteman di Belanda sangat susah. Di Indonesia, kita bisa berteman dengan orang yang kita temui di jalan. Kita bisa ngobrol dengannya. Hal ini sangat berbeda di Belanda. Walaupun kita memiliki teman dekat seorang Belanda, kita mungkin tidak akan pernah diundang kerumahnya. Tempat yang memungkinkan untuk diundang dan bertemu adalah kafe, sedangkan rumah hanyalah diperuntukkan bagi keluarga yang sangat dekat. Seorang Palestina yang sudah tinggal di Belanda selama 20 tahun, ia hanya memiliki beberapa teman orang Belanda saja. Juga demikian dengan seorang Indonesia yang kawin dengan orang Belanda dan sudah hidup disana selama 14 tahun, ia hanya kenal dengan 7 keluarga saja. Karena itu, ini akan menjadi masalah besar bagi kita yang ingin tinggal di Belanda. Namun, orang Belanda menganggap ini sebagai hal yang biasa saja.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;font lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;font lang="EN-US"&gt;Kelebihan disana adalah, orang-orang Belanda sangat tertib dan taat hukum. Pelayan apa saja tidak akan melayani orang yang menyerobot antrean. Lingkungan mereka sangat bersih, susah bagi kita untuk menemukan sampah. Segalanya teratur diletakkan pada tempatnya. Tidak ada spanduk dan billboard. Kalaupun ada, ukurannya kecil dan tingginya hanya dua meter. Bayangkanlah sebuah negeri yang tidak memiliki sampah, betapa sangat indah dan bersih. Lalu, bandingkanlah dengan apa yang ada di negeri kita ini, fiuhh….&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;font lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;font lang="EN-US"&gt;Soal pendidikan, satu ruang kuliah paling hanya diisi 20 mahasiswa saja. Ruang kelasnya juga kecil. Jadi, mahasiswa dan dosen berhadap-hadapan. Perpustakan jangan ditanya. Mereka memiliki koleksi buku yang luar biasa. Buku itu dari yang berumur ratusan tahun hingga yang terbaru. Ingin pintar adalah hal yang mudah disana. Khusus untuk studi Indonesia, hampir semua buku yang terbit di Indonesia ada kopiannya disana. Kita juga dibimbing oleh professor yang ahli dibidangnya. Hampir semua orang Belanda juga bisa berbahasa Inggris,&lt;font style=""&gt;  &lt;/font&gt;dari anak-anak kecil hingga yang tua. Sebagai tambahan, kehidupan disana sangat bebas. Praktek lesbian dan homo adalah hal biasa. Tidur sekamar bersama pacar adalah hal biasa pula. Sejak usia remaja mereka sudah terbiasa demikian. Beberapa bulan lalu misalkan Koran Tempo memberitakan bahwa anak-anak usia 15 tahun di Amsterdam sudah pernah melakukan hubungan seksual. Banyak cerita&lt;font style=""&gt;  &lt;/font&gt;mahasiswa Indonesia merasa terganggu oleh desahan pasangan yang sedang melakukan hubungan seks di kamar sebelah. Sesuatu yang tak terbayangkan di Indonesia.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;font lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;font lang="EN-US"&gt;(Sebagian besar sumber tulisan merupakan balasan email dari: &lt;a href="mailto:ibnuaviciena@yahoo.com"&gt;ibnuaviciena@yahoo.com&lt;/a&gt;. Dengan penambahan seperlunya)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;font lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-7816826122948487437?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/7816826122948487437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=7816826122948487437' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/7816826122948487437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/7816826122948487437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2009/03/sekilas-tentang-belanda.html' title='Sekilas Tentang Belanda'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/Scxq-AKcWlI/AAAAAAAAAD8/KFcj6R8pnZo/s72-c/amsterdam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-4280665185661421414</id><published>2009-03-16T18:36:00.000-07:00</published><updated>2009-03-16T18:41:54.858-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Waktu dan Masa Muda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/Sb7_0kY52jI/AAAAAAAAAD0/XS_qFXvdxqM/s1600-h/Tua.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 140px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/Sb7_0kY52jI/AAAAAAAAAD0/XS_qFXvdxqM/s200/Tua.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313965888930175538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul: Ya Allah…Tahu-Tahu Kini Saya Telah Tua!&lt;br /&gt;Penulis: Jamal Ma’mur Asmani&lt;br /&gt;Penerbit: DIVA Press&lt;br /&gt;Tebal: 228 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasan Al-Bana pernah mengatakan bahwa waktu adalah kehidupan. Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan. Begitu pentingnya waktu, sampai Allah bersumpah dengan waktu. Wal `ashr, demi masa, kata Allah dalam surat al-Ashr. Betapa Allah juga mementingkan waktu melalui sumpahnya yang lain dengan menggunakan satuan waktu yang lebih beragam. Misalnya, walfajri, demi waktu fajar (al-Fajr:1), wadhdhuha, demi waktu dhuha (Adh-Dhuha:1), wallaili, demi waktu malam (asy-Syams:3), wannahari, demi waktu siang (asy-Syams: 4). Sesungguhnya di balik perhatian Allah terhadap waktu terdapat pesan penting buat manusia, yaitu agar mereka juga memperhatikan dan mempergunakan waktu sebagaimana mestinya yakni dengan beribadah secara total dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga tahu bahwa satu-satunya hal yang tidak bisa di rem adalah waktu. Saat kita telah melakukan kesalahan beberapa detik yang lalu, kita tidak pernah bisa menghentikan waktu untuk mengembalikan kesedia kala agar tidak terjadi kesalahan. Tidak menutup kemungkinan bahwa kesalahan yang telah terjadi itu dapat merugikan diri kita sendiri atau bahkan orang-orang di sekeliling kita. Untuk orang-orang yang mau berpikir, disinilah mereka melihat bahwa waktu sangatlah berharga, tetapi bagi orang-orang yang tidak mau berpikir dan tidak bisa mengambil hikmah akan setiap kejadian, maka setiap kesalahan akan dianggap angin lalu dan bahkan waktu menjadi obyek cercahan atas kesialan yang menimpanya. Orang-orang dengan tipe pertama akan selalu berusaha untuk tidak mengulangi kesalahannya dan sebanyak mungkin melakukan amalan, karena waktu bagi mereka begitu berharga dan tidak dapat diputar kembali, sedangkan orang-orang dengan tipe kedua memiliki banyak peluang untuk mengulangi kesalahan yang sama dan terlena oleh waktu yang terus berlalu tanpa banyak berbuat amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Yusuf Mansur menjelaskan dalam bukunya yang berjudul,”Buat Apa Susah? Segarkan Hidupmu dengan Percaya”, bahwa kita bisa menganalogikan waktu hidup sebagai sapu lidi yang kokoh. Setiap hari satu batang lidi gugur, sampai pada satu saat tidak ada lagi lidi yang tersisa. Kalau kita memboroskannya, berarti lidi itu hilang tanpa kita sempat menyapu. Maka, menyapulah sebanyak dan sesering mungkin sebelum lidi-lidi itu berguguran. Gunakanlah waktu muda untuk berkarya besar, sebelum datangnya waktu tua ketika tidak mampu lagi berbuat apa-apa.” Lalu apakah kita akan melewatkan waktu muda dengan hal-hal yang tidak bermanfaat hingga tak terasa masa tua telah datang? Mengapa waktu muda kita begitu berharga? Bagaimanakah cara memperlakukan waktu muda kita sebagaimana mestinya?  Karena tentu saja untuk bisa memperlakukan waktu dengan semestinya itu harus ada pemahaman yang benar tentang hakikat waktu dan keberadaan eksistensi pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku karya Jamal Ma’mur Asmani ini, mungkin dapat membantu kita untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas. Buku ini memberikan penjelasan yang menarik tentang pentingnya sosok pemuda dalam kaitan manajemen waktu mudanya. Dengan gaya bahasa yang jelas dan mudah dicerna, pesan-pesan yang disampaikan penulis sangat mengena dan relevan dengan realita yang ada dalam kehidupan remaja muda saat ini. Dimulai dengan penjelasan akan pentingnya sosok pemuda di dunia ini, persoalan-persoalan yang dihadapi pemuda, dan langkah-langkah apa yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan waktu muda semestinya, hingga persiapan menjelang datangnya kematian menjadi ending dari buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tegas dan kritis, penulis memulai tulisannya dengan menjelaskan akan fungsi dan peran eksistensi pemuda bagi bangsa ini sebagai agent of social change (agen perubahan sosial), agent of transformation (agen perubahan), dan agent of the future (agen masa depan). Sehingga secara tidak langsung tanggung jawab moral yang mesti dipikul pemuda dalam masa mudanya dapat dikatakan sangat berat, tetapi mulia dan bernilai luhur. Penulis dalam buku ini seolah-olah menyadarkan kita (baca:pemuda) dari sebuah amnesia yang disebabkan oleh besarnya pengaruh negatif lingkungan saat ini. Penulis memperlihatkan kepada sebuah realita yang sehari-hari sangat dekat dengan kita, yang mana tanpa terasa telah membuat kita terlena untuk menyia-nyiakan waktu ke arah negatif-destruktif. Secara langsung maupun tidak langsung generasi muda Indonesia telah dipengaruhi  globalisasi budaya yang menciptakan budaya hedonis, konsumtif, konsumeris, dan sekularis. Budaya-budaya ini pada akhirnya akan menciptakan sebuah perilaku pemuda yang negatif-destruktif, seperti pergaulan bebas, larut dalam geng hitam, berzina, ke diskotek, memakai narkoba dan minum minuman keras, pembunuhan, perkelahian, dan sebagainya. Jika sebagian besar perilaku pemuda Indonesia seperti itu, maka akan menjadi apa bangsa ini nantinya? Sebuah bangsa yang sedang menuju kejurang kehancurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, fungsi dan peran pemuda yang sesungguhnyalah yang coba menjadi tema besar penulis dalam buku ini. Pemuda yang sesungguhnya adalah pemuda yang memiliki perilaku positif-progressif. Dimana melakukan sesuatu hal yang bermanfaat dalam dimensi jangka pendek dan jangka panjang. Sehingga terwujudlah sosok pemuda pemimpin harapan bangsa. Bagaimanakah sosok pemuda pemimpin harapan bangsa yang mampu memanfaatkan waktunya secara positif progresif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja pertama mesti dilandasi sikap tanggung jawab. Tanggung jawab dalam artian suatu sikap mental untuk menyelesaikan setiap pekerjaan secara baik dan berkualitas. Setelah itu, kita mesti belajar bagaimana cara menjadi pemuda yang benar dan pintar. Benar dan pintar adalah dua syarat yang harus ada dalam satu jiwa, satu langkah, satu komitmen, satu warna, dan satu kesatuan yang saling menyempurnakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bab-bab selanjutnya, penulis memberikan banyak pesan-pesan yang sangat bermanfaat bagi pemuda. Terutama bagaimana menjadi pemuda yang handal dan mampu menghargai waktu. Contohnya dalam Bab 3, penulis membahas tentang bagaimana memahami waktu dan memanfaatkan waktu. Kebanyakan pemuda sering menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Padahal waktu itu adalah modal yang sangat besar dan mahal dari Allah SWT yang diberikan kepada manusia. Barangsiapa yang mampu memanfaatkan waktu dengan baik, maka ia akan meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Namun, barangsiapa yang menyia-nyiakan waktu, niscaya ia akan sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis juga menjelaskan bahwa pemuda haruslah memiliki cita-cita yang besar dan diwujudkan dengan sebuah prestasi. Karena prestasi merupakan peniggalan yang tiada akhir dan mampu memberi manfaat kepada orang lain. Jika prestasi dan karya telah mampu diciptakan, maka kebesaran Allah SWT akan diperlihatkan sebagai sebuah kebahagiaan yang hakiki. Waktu yang tidak terbuang sia-sia di masa muda dengan melakukan hal-hal bermanfaat dan amal shalih, maka di masa tua kelak akan dinikmati dan menjelang kematian tiadalah yang mesti diberatkan, karena berjuta-juta pesona telah kita torehkan dimasa muda bagi manfaat orang banyak dan diri sendiri. Jangan sampai kita menyesal pada akhir hayat kita, karena penyesalan akhir tiada guna. Lalu, apakah kita sebagai pemuda akan terus menyia-nyiakan waktu hingga maut menjemput?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, buku ini sama seperti buku-buku lainnya yang berisi tentang motivasi hidup atau muhasabah diri. Namun, perbedaan yang coba disajikan dalam buku ini adalah bahasa yang digunakan oleh penulis mudah dimengerti dan pesan-pesan yang disampaikan sangat aplikatif. Membaca buku ini ibarat kita diajak berkaca dan berintrospeksi diri akan apa yang sudah kita lakukan selama ini dalam memanfaatkan waktu. Pesan-pesan yang disampaikan penulis yang aplikatif meningkatkan semangat untuk segera berbenah diri agar hari ini jauh lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik lagi dari hari ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-4280665185661421414?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/4280665185661421414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=4280665185661421414' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/4280665185661421414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/4280665185661421414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2009/03/waktu-dan-masa-muda.html' title='Waktu dan Masa Muda'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/Sb7_0kY52jI/AAAAAAAAAD0/XS_qFXvdxqM/s72-c/Tua.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-1442853136290339945</id><published>2009-02-10T20:26:00.000-08:00</published><updated>2009-02-10T20:31:46.119-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nasional'/><title type='text'>Menciptakan Jaringan Sebelum Pemilu</title><content type='html'>&lt;meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAMC1%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAMC1%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAMC1%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-hyphenate:none; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:Calibri; 	mso-fareast-language:AR-SA;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-family:"Tahoma","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Calibri; 	mso-bidi-theme-font:minor-latin;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadirnya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan pasal 214 UU no 10/2008 memberikan dampak yang sangat signifikan pada perubahan strategi pemenangan Pemilu legislative&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2009. Pembatalan dari pasal ini mengatur bahwa berdasarkan suara terbanyak, bukan berdasar nomor urut, yang bisa mengantarkan caleg untuk memperoleh kursi di dewan perwakilan. Sehingga cara-cara instan yang dilakukan caleg untuk memenangkan pemilu sebelumnya dikhawatirkan tidak ampuh lagi pada pemilu 2009 ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Akibat pembatalan pasal 214 UU no 10/2008 memberikan suatu perubahan pada dinamika politik Indonesia, yang menunjukkan bahwa demokratisasi yang berjalan semakin menunjukkan kedewasaannya. Hak suara pemilih (masyarakat) disini akan lebih dihargai karena mereka memilih caleg tentunya berdasarkan atas asas ‘mengenal’. ‘Mengenal’ disini tentunya bukanlah asal-asalan mengenal disebabkan hanya karena adanya baliho ataupun poster caleg tersebut yang banyak bertebaran dimana-mana, tetapi lebih kepada kinerja, kualitas, dan dedikasi seorang caleg kepada masyarakat. Sehingga caleg tersebut menjadi kuat posisinya dimata masyarakatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pembatalan pasal ini juga membuat caleg-caleg yang menggunakan cara lama yang instan menjadi &lt;i style=""&gt;kelimpungan&lt;/i&gt;. Cara lama dan instan yang dimaksud disini adalah cara yang menganggap uang diatas segala-galanya. Sehingga asal ada uang yang banyak, dalam waktu yang singkat dan mepet segalanya dapat dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat. Inilah yang banyak terjadi disetiap menjelang pemilu legislative. Biasanya kurang dari satu tahun atau bahkan enam bulan para caleg baru memulai sosialisasi yang terkesan mendadak. Mulai dari iklan dimedia massa, tebaran baliho, poster, pamphlet, dan atribut-atribut lainnya, mengadakan &lt;i style=""&gt;roadshow&lt;/i&gt; yang diiringi hiburan-hiburan yang tidak jelas, tak jarang juga pemberian bantuan sembako atau pembangunan dengan pamrih semata. Kebaikan itu hanya ada saat menjelang pemilu, sesudahnya, masyarakat tidak terlalu berharap. Itu semua hanya sebuah sajian semu para calon wakil rakyat untuk mendapatkan kekuasaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Memang proses untuk menjadi anggota legislative cenderung dilihat sebagai proses yang memerlukan banyak modal (uang). Sehingga orang yang menjadi caleg sudah tentu memiliki banyak modal. Disini akan membuat kecenderungan sebagian besar yang sudah mengeluarkan modal besar dalam proses pencalonannya akan berpikir untuk bagaimana mengembalikan modalnya itu dalam masa jabatan sebagai wakil rakyat. Hal ini tidak jarang menyebabkan masyarakat yang sudah memilihnya menjadi terlantar. Janji tinggallah janji yang tak pernah bisa direalisasikan oleh wakil rakyat yang duduk disinggasana atas bantuan rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Uang bukanlah segalanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Disaat inilah sebenarnya dituntut calon wakil rakyat yang memang benar-benar memiliki kompetensi yang handal, berkualitas, dan berdedikasi bagi masyarakat, walaupun tidak memiliki modal (uang) yang banyak. Karena seorang yang memiliki kualitas, kompetensi, dan dedikasi belum tentu memiliki modal banyak. Inilah yang menunjukkan bahwa uang bukanlah segala-galanya, tapi bagaimana dedikasi dan kualitas yang dutunjukkan kepada masyarakat secara ikhlaslah yang akan mengantarkannya untuk menjadi wakil rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;. Kualitas, kompetensi, dan dedikasi, merupakan tolak ukur bagi caleg yang benar-benar dapat diharapkan rakyat. Tentunya tolak ukur tersebut tidak bisa dipraktekkan oleh setiap caleg secara instan dalam waktu/tempo yang singkat dan mepet. Menurut DR. Sidik Jatmika, idealnya, seorang caleg sudah harus mampu mempersiapkan segalanya sekitar 3 (tiga) tahun sebelumnya. Kemudian, minimal 6 (enam) bulan dilakukan evaluasi sejauh mana tingkat efektifitas berbagai taktik yang telah dilakukan. Disisi lain, para caleg memiliki waktu yang cukup untuk berkomunikasi dan membangun citra dirinya secara mendalam kepada calon pemilihnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dalam waktu yang cukup lama itulah para caleg dapat memberikan kontribusi yang maksimal kepada masyarakat sebagai bahan &lt;i style=""&gt;personal building&lt;/i&gt;. Selain itu, para caleg juga bisa membangun dan menciptakan strategi modal non-uang untuk memperbesar penggalangan jumlah pemilih dan pendukung. Strategi modal-non uang ini berupa penciptaan jaringan massa dari modal budaya dan simbolik. Jaringan yang berasal dari modal budaya adalah misalnya jaringan yang dimiliki oleh caleg yang berasal dari sektor keilmuan formal (TK,SD, SMP,SMA,PT); non formal seperti, tempat kursus, sanggar seni, karang taruna, dan sebagainya, yang semua dapat dihimpun oleh caleg untuk dijadikan massa pendukung dengan strategi yang inovatif. Strategi simbolik dapat dengan cara menggalang dukungan dan membentuk jaringan dari pihak keluarga, yaitu mulai mendata silsilah keluarga besar yang dimungkinkan menjadi pemilih potensial, merangkul dan membangun ormas-ormas baik yang bersifat keagamaan dan kedaerahan, kelompok-kelompok sosial seperti, pengamen, pedagang, kelompok tani, pengrajin, dan sebagainya, serta organisasi-organisasi lain yang dapa dijadikan basis kekuatan dan jaringan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Semua modal tersebut lalu diakumulasikan dan dijadikan bahan pertimbangan dalam menyusun strategi dan peta kekuatan dalam menghadapi saingan menjelang pemilu. Namun, mesti diingat bahwa tujuan dari itu semua sejatinya bukan untuk mendapatkan tampuk kekuasaan semata, tetapi lebih kepada bagaimana membangun dan berdedikasi kepada masyarakat melalui jaringan yang sudah dibentuk demi kesejahteraan masyarakat, itulah tujuan utamanya. Sedangkan duduk sebagai wakil rakyat hanyalah sebuah hadiah dari apa yang sudah diberikan dan didekasikan sebelumnya kepada masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-1442853136290339945?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/1442853136290339945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=1442853136290339945' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/1442853136290339945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/1442853136290339945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2009/02/menciptakan-jaringan-sebelum-pemilu.html' title='Menciptakan Jaringan Sebelum Pemilu'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-7393226606176236243</id><published>2009-02-07T04:59:00.000-08:00</published><updated>2009-02-10T20:36:57.367-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='international'/><title type='text'>Kemajuan Teknologi Luar Angkasa  Iran</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY2IexNrakI/AAAAAAAAACc/CTAcKVt0B7w/s1600-h/Iran-Safir-satellite-carrier6.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300042398673103426" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 200px; height: 152px; text-align: center;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY2IexNrakI/AAAAAAAAACc/CTAcKVt0B7w/s200/Iran-Safir-satellite-carrier6.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: trebuchet ms;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Kemajuan teknologi Satelit dan Roket Iran, yang ditandai dengan peluncuran satelit buatan sendiri ke luar angkasa pada senin malam (2/2/2009), secara langsung menunjukkan bahwa mental bangsa Iran yang tetap kuat dan tegar walaupun didera tekanan komunitas Internasional terkait program nuklirnya. Mental inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap negara-negara dunia ketiga dalam menghadapi hegemoni Barat yang zalim. Peluncuran satelit buatan Iran ini sejatinya mengandung banyak pesan bagi negara-negara dunia ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Satelit Buatan Iran&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Kemajuan teknologi Iran saat ini semakin berkembang pesat. Hal ini ditandai dengan peluncuran satelit buatan sendiri yang dinamakan Omid (Harapan), Senin (2/2/2009). Sebenarnya ini bukanlah yang kali pertama bagi Iran meluncurkan satelit, karena sebelumnya Iran, pada tahun 2005, pernah meluncurkan satelit yang bernama Sina-1. Hanya saja roket pendorong satelit tersebut bukan buatan Iran, tetapi buatan Rusia. Sedangkan satelit Omid yang diluncurkan beberapa waktu lalu menggunakan dorongan roket Safir-2, buatan Iran. Satelit Omid diluncurkan ke ruang angkasa dengan tujuan untuk kepentingan penelitian sains dan telekomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Peluncuran satelit Omid memberikan kekhawatiran pada Barat. Sebenarnya yang menjadi permasalahan disini bukanlah berkaitan dengan satelit Omid Iran, karena jelas-jelas Iran mengatakan bahwa satelitnya tersebut memiliki misi untuk untuk penelitian sains dan komunikasi, bukan untuk merusak satelit lain atau sebagai satelit pengintai. Namun, yang menjadi kekhawatiran negara-negara Barat saat ini adalah kemampuan teknologi Iran yang berhasil mengembangkan teknologi roket Safir-2, yaitu roket pendorong satelit Omid. Barat mengklaim bahwa jika Iran sudah mampu mengembangkan tekonologi roket, maka hal ini berarti Iran telah mampu mengembangkan kemampuan rudal balistik yang memiliki daya jangkau antar benua. Hal inilah yang dicemaskan oleh Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Kepentingan Barat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Namun, kecemasan Barat sesungguhnya merupakan hal yang biasa. Hal ini dapat dianalisa, bahwa Barat akan tetap khawatir jika ada suatu negara yang dicurigai mampu menggoyahkan kepentingan Barat, khususnya dikawasan Timur-Tengah. Kepentingan Barat di Timur Tengah seperti menjaga distribusi Minyak, menjaga rezim-rezim yang bisa diajak bekerjasama dengan Barat, dan untuk menjaga eksistensi Israel. Untuk menjaga kepentingan itu semua, maka Barat perlu menancapkan hegemoninya di kawasan Timur Tengah. Jelas bahwa Iran merupakan kekuatan tandingan dan ancaman bagi Hegemoni Barat di kawasan Timur Tengah khususnya, dan negara-negara dibelahan dunia lain umumnya. Iran sesungguhnya selalu konsisten dengan tujuan damainya dalam setiap pengembangan teknologi, bahkan mau terbuka atas segala pemeriksaan badan Internasional terkait program nuklir dan pengembangan teknologi luar angkasanya. Iran juga tidak pernah terbukti secara nyata menyalahgunakan teknologi nuklir dan luar angkasanya. Jadi, kecemasan dan kekhawatiran Barat sebenarnya tidak beralasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Pesan Harapan ‘Omid’&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Sudah menjadi rahasia umum bahwa negara-negara Barat selalu menerapkan standar ganda dan menunjukkan inkonsistensi pada setiap kebijakan luar negerinya. Jika pengembangan teknologi nuklir dan rudal balistik sangat berbahaya bagi perdamaian dunia, justru yang mesti dicurigai disini adalah negara-negara seperti Israel, Rusia, Korea Utara, dan Amerika Serikat sendiri, dimana mereka memiliki bad track record dalam penggunaan teknologi tersebut. Sedangkan Iran dengan tegas menyatakan bahwa pengembangan teknologi nuklir dan luar angkasanya murni untuk tujuan damai. Pengembangan teknologi merupakan hak asazi bagi setiap Negara bangsa, khususnya bagi Negara-negara berkembang. Jika Negara barat selalu mendengungkan akan persamaan hak seluruh manusia, maka sejatinya setiap manusia di muka bumi ini memiliki hak yang sama. Jika Negara-negara Barat dapat berkembang dan maju, maka Negara-negara dunia ketiga memiliki hak yang sama juga untuk berkembang dan maju. Untuk mencapai itu semua maka diperlukan pengembangan yang berkesinambungan disegala aspek kehidupan, salah satunya teknologi. Kenyataan justru berbeda dari teori dan menunjukkan tidak konsistennya Negara Barat. Mereka justru menghambat kemajuan tersebut, mencurigainya, dan membuat Negara-negara dunia ketiga bergantung kepada mereka sehingga tidak tercipta kemandirian dan selamanya menjadi bangsa terjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;‘Harapan’ menjadi sebuah pesan yang ingin disampaikan Iran dalam peluncuran satelit Omid (harapan). Harapan memiliki arti yang sama dengan cita-cita dan impian. Satelit Omid memberikan harapan, cita-cita, dan impian kepada Negara-negara dunia ketiga lainnya bahwa mereka harus memiliki impian atau harapan yang sama dengan Iran untuk menjadi Negara bangsa yang berusaha untuk maju, untuk lepas dari ketergantungan Negara barat, untuk menciptakan keseimbangan yang baru dan menghapus hegemoni Barat yang zalim. Pada akhirnya, hakikat dari persamaan, kebebasan, kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan dapat tercapai di dunia ini.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-7393226606176236243?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/7393226606176236243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=7393226606176236243' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/7393226606176236243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/7393226606176236243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2009/02/kemajuan-teknologi-luar-angkasa-iran.html' title='Kemajuan Teknologi Luar Angkasa  Iran'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY2IexNrakI/AAAAAAAAACc/CTAcKVt0B7w/s72-c/Iran-Safir-satellite-carrier6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-7420372980884364974</id><published>2009-02-06T19:42:00.000-08:00</published><updated>2009-02-07T22:15:32.826-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Kematian</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY0EIbQHFaI/AAAAAAAAABk/_yCIjev9JEc/s1600-h/kematian2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299896879285736866" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 200px; height: 104px;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY0EIbQHFaI/AAAAAAAAABk/_yCIjev9JEc/s200/kematian2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;Jika kematian adalah sebuah keniscayaan, maka semua makhluk hidup akan merasakan dan melewatinya. Kullunafsinzaa ikatulmaut, semua yang bernyawa pasti akan merasakan maut/kematian. Berpikir tentang kematian, hal ini akan membawa daya pikir ke suatu arah dan ruang yang tak berkesudahan dan tak berujung. Tak mampu digapai dan dicapai oleh logika manusia. Terkadang pikiran akan kematian selalu terbersit dalam nalar pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita adalah makhluk yang sedang berada dalam antrean panjang, yang sedang menunggu giliran untuk menuju ke kematian. Kita tidak bisa berpindah atau berlari dari antrean panjang tersebut. Kita telah berada pada posisi yang pasti dan menghadap kearah gerbang kematian. Lalu, jika kematian merupakan suatu hal yang benar-benar niscaya dan sudah ada jelas-jelas buktinya sejak zaman dahulu hingga saat ini, mengapa masih juga ada manusia yang takut akan kematian? Apakah karena kematian itu identik dengan terputusnya segala kemikmatan yang ada di dunia ini, lalu berpindah ke dalam liang lahat yang sempit, gelap, dan pengap, sendiri tanpa ada yang menemani untuk waktu yang lama dan tak menentu, karena itukah manusia ketakutan atas sebuah kematian?&lt;br /&gt;Namun sebenarnya, jika seseorang benar-benar mengimani Allah SWT, maka ia atau siapapun itu sebenarnya tidak perlu takut akan kematian, mengapa?karena:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kematian adalah suatu hal yang pasti dan tetap; ibarat kita tumbuh dari kecil, remaja, dewasa, lalu tua, itu  semua pasti kita rasakan dan lewati, begitu juga kematian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kematian sebenarnya hanya terjadi pada fisik jasmani saja, karena ruh atau jiwa kita tidak pernah mati; ruh atau jiwa ini yang akan diadili kelak dan menentukan apakah ia akan masuk surga dan neraka; namun yang menjadi masalah adalah, manusia merupakan makhluk yang mempunyai rasa ingin tahu yang sangat besar, sehingga pertanyaan “bagaimana dan kemanakah manusia setelah mati”akan selalu menjadi pertanyaan besar dalam benak setiap manusia, walaupun mereka telah tahu akan hal itu sebenarnya, tetapi penglihatan visual mereka tak pernah melihat secara nyata, sehingga untuk meyakini logika menjadi susah dan akhirnya memberi kesempatan pada naluri pembangkang untuk membangkang. Itulah sebabnya keimanan yang kuat sangat dibutuhkan disini.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hidup di dunia sebenarnya merupakan hidup dalam sebuah ujian yang bertubi-tubi. Cobalah untuk berpikir, bahwa sebenarnya lebih banyak ujian/cobaan daripada kenikmatan yang kita dapat didunia ini. Apalagi semua itu hanya bersifat sementara alias semu. Jadi, kita sebenarnya hidup didunia sebenarnya adalah untuk mempersiapkan diri ke kehidupan selanjutnya. Namun kebanyakan manusia sering lupa akan hal tersebut.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Dalam suatu penggalan kalimat di salah satu ayat al-Quran menyebutkan bahwa sebenarnya orang yang telah mati itu hanya merasakan sebentar saja di alam kubur. Jika menggunakan logika yang sederhana, kita mungkin tidak bisa menerima hal tersebut, karena bagaimana mungkin orang yang sudah mati ribuan tahun lamanya disebut hanya sebentar di alam kubur? Tapi sebenarnya jika kita menggunakan logika yang sederhana pula maka kita akan bisa menjawabnya pula. Sebagai contoh, perbedaan apa yang dirasakan orang yang tertidur pulas selama 8 jam dengan orang yang dalam waktu yang sama melakukan suatu aktifitas. Maka orang yang tertidur pulas akan merasakan bahwa waktu yang 8 jam hanya sebentar saja, dan orang yang beraktifitas selama 8 jam akan merasakan waktu yang lebih lama dibanding orang yang tertidur tersebut. Begitu juga yang terjadi pada orang yang pingsan atau koma dalam waktu beberapa hari. Hal ini juga terbukti pada peristiwa Ashabul Kahfi yang tertidur selama ratusan tahun, tapi mereka hanya merasakan sebentar saja. Jadi, kesimpulannya adalah sudut pandang sebentarnya sebenarnya dilihat dari orang yang mati tersebut, sedangkan sudut pandang lama dilihat dari orang yang masih hidup. Namun tidak mungkin kita menanyakan orang yang sudah mati, apakah ia merasakan sebentar atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari itu semua, yang menjadi permasalahan besar dan ada dihadapan kita semua adalah, berpangkal dari Kematian merupakan sebuah keniscayaan ,maka posisi manusia saat ini ada pada posisi mempersiapkan diri. Dimana mempersiapkan diri menyambut kematian ayah ibu kita dan orang-orang di sekeliling yang kita sayangi, dan mempersiapkan diri untuk menyambut kematian kita sendiri. Siapkah kita menyambutnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada salahnya jika kita menyisakan waktu luang sedikit setiap harinya untuk selalu mengingat kematian untuk membentuk sikap kita dalam menghadapi kenyataan didepan mata, dan sebagai bahan introspeksi serta muhasabah diri untuk membenahi diri kita ini sebelum ajal menjemput. Jangan sampai pada saat Ia sudah akan menjemput kita, tetapi mendapati kita masih dalam keadaan berlepotan lumpur dosa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-7420372980884364974?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/7420372980884364974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=7420372980884364974' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/7420372980884364974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/7420372980884364974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2009/02/kematian.html' title='Kematian'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY0EIbQHFaI/AAAAAAAAABk/_yCIjev9JEc/s72-c/kematian2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-8085285410860476805</id><published>2009-02-05T19:09:00.000-08:00</published><updated>2009-02-07T05:16:08.591-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='essay'/><title type='text'>Membaca sebagai Budaya Bangsa yang Maju</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299517657318442914" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 172px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SYurOzVgR6I/AAAAAAAAABc/UFp9EiwSWZU/s200/membaca.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku tidak ingin mengatakan bahwa bangsaku ini adalah bangsa yang tertinggal atau tidak maju dibanding bangsa Asia lainnya, apalagi jika dibandingkan dengan negara tetangganya yang luasnya tak lebih dari luas Provinsi Yogyakarta atau negara tetangga yang sempat berguru pada bangsaku ini pada masa lalu. Walaupun pada kenyataannya bangsaku ini memang sebuah bangsa yang tertinggal, ditambahi oleh seribu satu masalah yang melandanya.&lt;br /&gt;Aku ingin menanamkan rasa optimisku bahwa bangsaku ini sedang berjalan untuk maju mengejar ketertinggalannya dan suatu saat mampu untuk sejajar dengan bangsa lainnya, walaupun aku merasa bangsaku ini seperti jalan di tempat sejak era kebangkitan reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang sebenarnya membuat bangsaku ini tertinggal? Untuk menjawab pertanyaan ini bukanlah suatu hal yang mudah, karena ada banyak argumen yang bisa diajukan untuk menjawabnya, disebabkan masalah yang menjangkiti bangsaku ini telah mencapai taraf krisis multidimensi. Jadi, jawaban yang akan kuutarakan ini hanyalah mewakili segelintir faktor namun menurutku cukup signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat aku akan sebuah soal ujian akhir semester agama islam III (tafsir dan hadis). Kurang lebih soal itu menanyakan mengenai sumber ilmu pengetahuan yang ada di dunia. Aku menjawabnya dengan mantap bahwa sumber ilmu pengetahuan di dunia ini adalah Kalam Allah SWT. Ya, itulah sumber ilmu pengetahuan, dan Kalam Allah SWT terhampar dan tersebar luas dijagat raya ini. Apa yang kita lihat, dengar, rasakan, merupakan ilmu, yang kesemuanya telah termaktub dalam kitab suci Al-Quran. Bagaimana kita mampu untuk mempelajari dan menyerap itu semua? Maka tak heran jika wahyu Allah SWT yang pertama kali turun kepada Nabi Besar Muhammad SAW adalah memerintahkan untuk MEMBACA. Surat Al-Alaq ayat 1-5 berbunyi :&lt;br /&gt;1. Bacalah! dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,&lt;br /&gt;2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.&lt;br /&gt;3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,&lt;br /&gt;4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.&lt;br /&gt;5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Membaca’ adalah jawaban dari pertanyaanku tadi, karena membaca adalah jendela wawasan. Dengan membaca, kita akan mengetahui segala ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini, bahkan untuk di akhirat kelak. Dengan membaca maka kita mendapat ilmu pengetahuan, dan dengan ilmu pengetahuan kita bisa mengangkat derajat kita untuk lebih menjadi manusia yang maju. Jika kegiatan membaca dilakukan dengan kolektif atau banyak orang, maka manfaat yang didapatkan tentu besar pula, yaitu mengangkat derajat banyak manusia sehingga mereka mampu untuk maju, jika banyak manusia Indonesia maju maka bangsaku ini juga turut maju. Namun, hal itu tak semudah apa yang kita pikirkan. Bukan sekedar membaca yang mesti kita lakukan, tapi Membaca mesti dijadikan sebagai sebuah kebiasaan atau bahkan budaya. Budaya Membaca. Karena dari suatu budaya akan membentuk suatu peradaban. Maka budaya membaca akan membentuk peradaban yang maju pada sebuah bangsa. Tapi sayang, bangsaku ini belum membudayakan dan membiasakan membaca. Bahkan banyak orang dengan pesimis mengatakan bahwa bangsaku ini adalah bangsa yang malas, malas untuk membaca. Ada sebuah penggalan artikel dari sebuah blog, aku lupa nama blognya, yang membahas kebiasaan membaca bangsaku ini: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Seperti kita tahu, apabila kita bandingkan antara perilaku bangsa Indonesia dg&lt;br /&gt;bangsa-bangsa lain dalam soal kebiasaan membaca ini sangat jauh tertinggal. Kita lihat&lt;br /&gt;contoh yg mudah, saat melakukan perjalanan baik di darat (bus, atau kereta api)&lt;br /&gt;atau perjalanan udara (pesawat) selalu kita lihat banyak orang dari&lt;br /&gt;bangsa-bangsa lain (eropa, amerika, termasuk India) yg menggunakan waktu luang&lt;br /&gt;di perjalanan dg membaca buku; entah itu berupa buku serius atau sekedar novel&lt;br /&gt;fiksi. Pemandangan semacam itu tidak pernah kita lihat dilakukan oleh orang2&lt;br /&gt;Indonesia.&lt;br /&gt;Apa yg menyebabkan kita malas baca? Jawaban simpelnya: karena kita bangsa yg&lt;br /&gt;pemalas! Kumpulan orang-orang pemalas dan patetis yg selalu ingin mendapatkan&lt;br /&gt;keuntungan (materi) dg tanpa harus bekerja keras. Namun menurut salah seorang&lt;br /&gt;rekan kita yg sudah menyelesaikan gelar Ph.D-nya di Aligarh University, yaitu&lt;br /&gt;DR. Mujab Mashudi (kakaknya Qisai), kemalasan dg lemahnya kreatifitas kita di&lt;br /&gt;panggung internasional adalah karena bangsa kita termasuk dalam kategori bangsa&lt;br /&gt;yg masih muda. Bangsa yg masih muda akan cenderung mengikuti tradisi awal&lt;br /&gt;sejarah umat manusia; bukan terbiasa membaca tapi berbicara; tidak terbiasa&lt;br /&gt;menulis tapi bercerita. Tidak terbiasa bekerja keras, tapi bermalas-malasan. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Membaca artikel itu sedikit membuat miris hatiku. Walaupun aku belum pernah melihat seperti apa bangsa-bangsa lain diluar sana dengan kebiasaan membacanya, namun setidaknya aku pernah melihat disela-sela waktu luangku saat diperjalanan darat, udara, maupun air, bahwa sudah banyak juga orang-orang dari bangsaku yang menggunakan waktu luangnya untuk membaca Koran, majalah, ataupun buku serius lainnya. Tapi memang hal itu semua belum menjadi suatu kebiasaan atau budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini aku rasakan dahulu saat aku masih berada di daerah asalku. Sejak SD-SMA, aku tak tahu mengapa guru-guruku sedikit sekali menstimulus murid-muridnya untuk membiasakan membaca Koran atau buku-buku pengetahuan umum lainnya. Hanya terpaku pada buku ajar bidang studi yang sedang digeluti. Perpustakaan sangat sedikit pengunjungnya. Bahkan hal ini diperparah dengan sedikitnya jumlah toko buku. Walaupun ada toko buku, namun buku-buku yang ada kurang up to date. Tidak lengkap koleksinya. Bahkan internet belum menjamur seperti yang terjadi di kota tempat aku kuliah saat ini, Jogja. Didaerah asalku justru lebih banyak toko pakaian dan makanan dibanding toko buku, yang mana hal itu justru mendidik dan menumbuhkan budaya konsumtif yang negatif bagi masyarakat setempat.&lt;br /&gt;Benarkah bangsaku ini adalah bangsa yang malas? Bangsa yang malas untuk membaca sehingga menyebabkan bangsa ini tidak maju? Aku rasa tidak, bangsaku bukanlah bangsa pemalas. Bangsaku bukan malas untuk membaca, tapi mereka tidak terbiasa untuk membaca. Bahkan ada yang berkeinginan untuk terbiasa membaca tapi kemampuan untuk menyalurkannya tak ada. Inilah masalah intinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah asalku belum memiliki kebiasaan untuk membaca. Dan itu harus segera ada yang memulai secara kolektif untuk menumbuhkan kebiasaan dan budaya membaca. Mengapa aku mengatakan seperti itu? Aku kagum dengan kota dimana aku berpijak saat ini. Jogja. Kota pelajar, yang tak bisa dipungkiri selalu identik dengan kegiatan membaca. Saat pertama kali aku tiba di kota ini, aku melihat warung-warung yang dipenuhi orang yang makan dengan ditemani aktifitas membaca Koran. Toko-toko buku yang banyak dan selalu dipenuhi oleh para pelajar dan mahasiswa. Seminar, bazaar, pameran, dan bedah buku sering diadakan. Buku-bukunya pun selalu up to date. Di halte, stasiun, bandara, orang-orang menggunakan waktu luangnya untuk mambaca. Bahkan di tempat ibadah sekalipun lembaran-lembaran dakwah yang diperuntukkan jemaah selalu tersedia, serta setiap kantor kelurahan dan kecamatan selalu menyediakan tempat untuk menempel Koran lokal dan nasional untuk dibaca warga setempat. Membaca telah menjadi budaya di kota ini. Inilah yang mesti ditiru oleh daerahku dan daerah-daerah lainnya di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;Apakah cukup hanya dengan menumbuhkan kebiasaan,minat, dan menjadi sebuah budaya baca, lalu bangsa ini akan maju? Ternyata itu belum cukup. Walaupun telah menjadi kebiasaan bahkan memiliki minat tinggi untuk membaca, ternyata bangsa kita ini memiliki daya beli yang sangat rendah. Daya untuk membeli buku dan bacaan lainnya, daya membeli ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan adanya PPN yang dipungut dari pembelian kertas oleh industri pers, maka harga buku dan sejenisnya menjadi cukup mahal. Ditambah dengan naiknya harga BBM, maka harga barang semakin melonjak. Untuk makan saja susah apalagi untuk membeli buku. Oleh karena itu, memungut pajak pengetahuan sama saja melemahkan minat baca bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah penggalan iklan di Koran Tempo, edisi rabu, 18 Juni 2008. Sebuah komentar dari seorang kepala sekolah suatu SD, Ibu Siti Amanati, BA.&lt;br /&gt;Minat baca anak didik saya sebenarnya cukup bagus, tapi kalau daya belinya rendah apa mau dikata….makanya kalau saya bawa Koran bekas ke sekolah, langsung jadi rebutan dibaca anak-anak, mereka ngga peduli beritanya sudah basi. Jadi, kalau harga Koran naik lagi, bagaimana kita mau menyukseskan Gerakan Membaca Koran? Ilmu pengetahuan kok dipajaki..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, memang Presiden SBY telah mencanangkan “Gerakan Membaca Koran” di Semarang, 9 Februari 2008 lalu, tapi coba bayangkan, membeli Koran saja bangsa kita ini sudah banyak yang tidak mampu, apalagi untuk membeli buku bacaan lainnya. Bagaimana bangsa ini mampu untuk maju? Semoga pemerintah mampu bertindak arif dan bijaksana dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan bangsa ini. Sejatinya, pemerintah yang bijak tidak memungut pajak pengetahuan ( buku dan media cetak ), karena akan menyebabkan pembodohan dan pemiskinan bangsa.&lt;br /&gt;Majulah Bangsaku! &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-8085285410860476805?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/8085285410860476805/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=8085285410860476805' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/8085285410860476805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/8085285410860476805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2009/02/membaca-sebagai-budaya-bangsa-yang-maju.html' title='Membaca sebagai Budaya Bangsa yang Maju'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SYurOzVgR6I/AAAAAAAAABc/UFp9EiwSWZU/s72-c/membaca.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-7444550347927692273</id><published>2009-02-05T19:00:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T19:08:50.601-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Untuk apa aku menulis</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SYuokglRiOI/AAAAAAAAABU/081cNcde5K0/s1600-h/PenPaper.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299514731706550498" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 191px; CURSOR: hand; HEIGHT: 136px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SYuokglRiOI/AAAAAAAAABU/081cNcde5K0/s200/PenPaper.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tak ada salahnya jika saya mengatakan ‘materi’ terkadang mampu menggerus idealisme, kritisisme, atau bahkan prinsip seseorang. Ketiga hal pokok tadi merupakan fondasi yang membentuk pribadi seseorang menjadi pribadi yang betul-betul tahu akan jati dirinya dan tahu kemana ia akan melangkah. Sehingga sangat disayangkan jika harus tergerus oleh keutopiaan materi dunia. Tak sedikit para aktivist-aktivist yang berteriak didepan gedung-gedung DPR dengan lantang atau menorehkan pemikiran-pemikiran mereka yang kritis di media massa. Namun, ironisnya ketika mereka telah duduk disinggasana ‘kursi panas wakil rakyat’, mereka lupa akan amanat yang diemban, pemikiran-pemikiran kritis itu hilang, mulut mereka terkunci, tak ada lagi idealisme, yang ada hanya uang yang berbicara, materi! Ibarat lingkaran setan, terjebak dan terlena didalamnya.&lt;br /&gt;Tak jauh berbeda pula dengan kreatifitas menulis. Menulis sejatinya adalah penyampaian pesan atau amanat kepada orang lain sehingga mampu memberi suatu nilai positif kepada orang lain. Menulis sarat dengan idealisme sang penulis, pemikiran kritisnya dan juga prinsipnya. Namun, hal-hal tersebut terkadang mampu hilang jika ‘materi’ telah menjadi tujuan akhirnya. Jangankan penulis yatim piatu, penulis non yatim piatu pun atau seorang penulis dari keluarga menengah/mapan setidaknya memiliki mimpi yang sama, yaitu mampu mendapat penghasilan yang besar dari tulisannya atau bahkan ingin terkenal dan disanjung-sanjung seperti penulis yang sudah terkenal. Sehingga terkadang mereka menggunakan jalan pintas yang instan. Namun, apa pesan dan amanat yang ada di dalam tulisannya? Tulisannya ibarat kebun yang kering dan gersang. Dibutakan oleh materi, terjebak dalam alur lingkaran setan.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tidak terlalu berlebihan jika saya mengatakan bahwa menulis haruslah dengan hati, amanah, menyampaikan sesuatu dengan jujur dengan dilandaskan niat ibadah. Insya Allah ketiga fondasi yang sebelumnya saya jelaskan akan semakin kokoh, dimana berguna untuk lebih menambah kualitas tulisan kita nantinya. Saya sendiri menyadari, jika kita telah mengetahui kunci dari ‘menulis’, maka menulis akan menjadi ladang harta. Menulis akan menjadi sangat dekat dengan ‘lingkaran setan’ yang akan membuat kita lupa diri. Saya tidak ingin hal itu terjadi pada diri ini dan kawan-kawan penulis lainnya. Jika ada teman yang menanyakan, “Untuk apa kamu menulis?”, pertanyaan itu mungkin tak jadi masalah bagi saya karena saya bisa menjawab dengan berbagai macam jawaban, tapi jika hati ini sendiri yang bertanya, “Untuk apa kamu menulis?” , itulah yang menjadi masalah, karena hati tak dapat dibohongi, hati yang menggerakkan segalanya. Namun, sekarang saya tak akan pernah ragu untuk menjawab ataupun membohongi hati ini karena dengan tekad yang bulat saya menjawab, “saya menulis untuk beribadah”.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-7444550347927692273?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/7444550347927692273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=7444550347927692273' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/7444550347927692273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/7444550347927692273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2009/02/untuk-apa-aku-menulis.html' title='Untuk apa aku menulis'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SYuokglRiOI/AAAAAAAAABU/081cNcde5K0/s72-c/PenPaper.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187712359497162195.post-7084254567473082030</id><published>2009-02-05T01:53:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T02:19:47.124-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>ReBorn to be 'creativeminority'</title><content type='html'>Jengah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup dalam atmosfir utopianisme...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mayoritas utopianisme telah membuat kita amnesia..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;amnesia pada segalanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;termasuk diri kita sendiri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kita akan menjadi sebuah bangsa yang amnesia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya....kehancuran yang siap menunggu dihadapan kita...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reborn...to be creativeminority...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minoritas sebagai ujung tombak sebuah bangsa amnesia!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187712359497162195-7084254567473082030?l=blogcreativeminority.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/feeds/7084254567473082030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187712359497162195&amp;postID=7084254567473082030' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/7084254567473082030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187712359497162195/posts/default/7084254567473082030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogcreativeminority.blogspot.com/2009/02/reborn-to-be-creativeminority.html' title='ReBorn to be &apos;creativeminority&apos;'/><author><name>MinorityIdeas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11574671125607289614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_s-05siGjWag/SY13GHcWb0I/AAAAAAAAABw/fKETAOxTQck/S220/anam.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
